Thursday, 6 March 2014

ALUN-ALUN SEMARANG SUDAH LAMA MENGHILANG



Jika mengunjungi sebuah kota, maka "patokan" kota adalah Masjid Agung ataupun alun-alun (Aloon-aloon) kota. Terlebih jika kita ke kota Semarang, pasti kita langsung menuju Simpang Lima sebagai patokan pusat kota. Orang awam tidak salah menyebutkan Simpang Lima itu sebagai alun-alun kota Semarang. Ketidaktahuan masyarakat yang sudah terlalu lama ini yang sekarang harus diluruskan. Perlu diketahui, bahwa Simpang Lima Semarang bukanlah alun-alun.
Saya terhenyak ketika mencari alun-alun kota Semarang yang sebenarnya. Sebelumnya, saya dengan media search engine sekelas Google saja sudah jelas ada kesalahan informasi. Yang terjadi ketika kita search kata: "alun-alun Semarang" kemudian yang muncul adalah gambar Simpang Lima Semarang. Ini sangat miris ketika search engine terbesar di dunia bisa terjadi kesalahan. Bahkan orang Semarang pun bisa terkecoh dan tidak tau kawasan alun-alun Semarang yang sebenarnya sesuai historis dan fakta. Oke, kita telaah bersama-sama tentang alun-alun....

ALUN-ALUN KOTA
Alun-alun sudah mengalami evolusi yang sangat panjang di Indonesia. Pada budaya masyarakat yang meliputi tata nilai, pemerintahan, kepercayaan, perekonomian dan lain-lain inilah yang mengubah wajah alun-alun. Beratus-ratus tahun yang lalu, salah satu pelopor kawasan alun-alun adalah kerajaan Hindu Majapahit. 
Disebutkan dalam buku Negara Kertagama, Trowulan sudah mengenal Alun-alun sebagai kegiatan religiusitas. Di kala itu, kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, maka haruslah dibuat upacara minta izin kepada “dewi tanah”. Yaitu dengan jalan membuat sebuah lapangan “tanah sakral” yang berbentuk “persegi empat” yang selanjutnya dikenal sebagai alun-alun.

Fungsi lain  alun-alun di kala itu:
- Fungsi administratif: masyarakat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat.

- Fungsi sosial budaya dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain. Mengingat alun-alun biasanya hamparan lapangan luas berumput, interaksi sosial bisa di bidang perdagangan kecil, hiburan ataupun olahraga.

Evolusi Alun-alun
Masuknya Islam di Indonesia juga mempengaruhi bentuk dan fungsi alun-alun kota. Tata kota Jawa pada umumnya mempunyai bentuk dasar yang hampir sama, yaitu selalu dibentuk dengan adanya alun-­alun dengan dikelilingi pusat pemerintahan dan masjid besar. Pada masjid besar tersebut, biasanva selalu dikelilingi rumah-rumah tinggal yang kemudian disebut dengan nama kampung Kauman yang notabene adalah tempat tinggal para kaum/orang yang "dituakan" dalam segi spiritual.
SOURCE
Konsep alun-alun menurut Islam adalah sebagai ruang terbuka perluasan halaman masjid untuk menampung luapan jamaah biasanya ketika hari besar agama Islam. Siar Islam telah membawa perubahan dalam perancangan pusat kota, sehingga alun-alun dan Masjid berada dalam satu kawasan yang di dekatnya juga terdapat jalur transportasi.

Di era kekuasaan kolonial Belanda, wajah alun-alun kota juga mulai terjadi perubahan. Hal ini terlihat dengan didirikannya bangunan penjara pada sisi lain alun-alun. Pendirikan bangunan-bangunan untuk kepentingan Belanda sekaligus mengurangi fungsi simbolis alun-alun, kewibawaan penguasa setempat (mbah kaum = kasta tinggi pribumi).

Di jaman sekarang, banyak alun-alun di Indonesia yang semakin berubah dari fungsi aslinya. Faktor pendorong perubahan fungsi tersebut diantaranya: kebijakan pemerintah, aktivitas masyarakat, perdagangan dan keserakahan.

ALUN-ALUN SEMARANG
Alun-alun tak pernah lepas dari Masjid Agung, dalam tulisan ini terkhusus pada Masjid Agung Semarang. Nihm satu fakta tercatat bahwa alun-alun semarang bukan berada di Simpang Lima Semarang, namun berada di Jl. Alun-alun Barat Nomor 71 Semarang. Di situ berdirilah Masjid Besar Kauman Semarang yang menjadi cikal bakal alun-alun kota Semarang. Masjid ini dibangun pada tahun 1170 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1749 Masehi.
SOURCE
Namun sekitar tahun 1938 alun alun tersebut beralih fungsi menjadi kawasan komersil yaitu dengan adanya Pasar Johar. Kesalahan itu tidak berhenti di situ saja, sekitar tahun 1970an Bangunan Kanjengan (pemerintahan) di sisi Selatan alun-alun telah dirobohkan dan dibangun pertokoan. Kawasan alun-alun yang lain didekat pasar Johar berdiri pasar Yaik Permai. Sedangkan di alun-alun Utara (bekas terminal angkot) berdiri gedung BPD dan Hotel Metro, yang kemudian menjadi area Kawasan Perdagangan Johar. Masjid Besar Kauman Semarang kini terjepit di antara bangunan bangunan tinggi yang mengepungnya. Tata kota tradisional di Semarang kacau balau saat itu.

Hilangnya Alun-alun Semarang
Masjid Besar Semarang terkena rob
SOURCE
Sangat naif ketika hanya menyalahkan kejadian masa lalu atas hilangnya alun-alun Semarang. Pelajaran penting ini menjadi cambuk agar di kota lain tidak terjadi hilangnya tata kota tradisional alun-alun kota. Seperti yang sudah saya tuliskan: kebijakan pemerintah, aktivitas masyarakat, perdagangan dan keserakahan ini menjadi momok mengapa tradisi yang sudah ada menjadi hilang secara mudah.

SOURCE
Khususnya di Semarang, pasar yang berdiri di Alun-alun adalah bukti potensi ekonomi strategis kawasan ini sangat kuat, walaupun pasar Johar penuh dengan permasalahan. Mulai dari banjir, rob, banyaknya PKL, kemacetan lalu lintas dan yang terakhir dianggap oleh investor sebagai bangunan yang sudah tidak layak dan akan diganti dengan pusat perbelanjaan.

POIN PENTING
Nah, sekarang kita sudah mengetahui sedikit sejarah tentang alun-alun dan terkhusus alun-alun di Semarang yang sudah hilang karena alih fungsi. Jangan salahkan orang ketika menjawab Simpang Lima Semarang sebagai alun-alun kota Semarang. Kita sebagai penulis dan pembaca harus mampu menyanggah atas data dan fakta yang ada, bahwa terjadi kurangnya informasi yang berkembang di masyarakat.
Dengan kisah dan fakta tersebut, kesalahan dalam pembangunan tata kota tradisional seharusnya tidak akan terulang lagi di kota lain.

Tuesday, 4 March 2014

MUSISI TIM KNOL: IKATAN BELANDA & MAGELANG

Orang keturunan Belanda biasanya memiliki ikatan batin dengan Indonesia. Mungkin nenek moyang mereka bercerita tentang asyiknya di negara Hindia (Hindis - Indische - Indonesia). Indahnya Indonesia di kala itu menarik perhatian negara lain, terlebih Belanda. Kebanyakan foto lawas di berbagai sumber mengatakan bahwa Indonesia itu negeri yang permai, sejuk, dan cita-cita tempat tinggal yang ideal.
Saya tidak akan bercerita tentang romansa penjajahan kolonial Belanda. Namun sedikit berkisah bahwa hubungan bilateral Belanda dan Indonesia ini sudah ada lama sekali. hubungan bilateral hanya melibatkan dua negara , karena "bi" artinya adalah dua jadi maka nya bilateral hanya melibat kan dua negara . Hubungan bilateral adalah suatu hubungan politik, budaya dan ekonomi di antara 2 Negara.

SEJARAH BILATERAL BELANDA - INDONESIA 
SOURCE
 Pada 1603, Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC mulai beroperasi di Indonesia di mana ia terlibat dalam pertempuran untuk memperluas wilayahnya. Setelah kebangkrutan Perusahaan pada tahun 1800, negara Belanda menguasai kepulauan ini pada tahun 1826. Setelah ini negara Belanda juga berperang melawan dia pribumi dan kemudian ditegakkan periode kerja paksa dan perbudakan sampai tahun 1870 ketika, pada tahun 1901, mereka mengadopsi "Kebijakan Etis Belanda dan Kebangkitan Nasional," yang termasuk investasi yang agak meningkat dalam pendidikan adat dan reformasi politik yang sederhana. Hanya dalam abad ke-20, bagaimanapun, adalah pemerintahan Belanda ditingkatkan untuk apa yang akan menjadi Indonesia. Setelah penjajahan Jepang selama Perang Dunia II, Belanda mencoba untuk membangun kembali kekuasaan mereka, di tengah perjuangan bersenjata dan diplomatik pahit yang berakhir pada Desember 1949. Tekanan internasional kemudian memaksa Belanda untuk memerdekaan Indonesia yang diakui secara resmi.
Ya, itu sekelumit kisah bilateral Belanda dengan Indonesia di masa lampau. Mari lupakan masa lalu, kemudian rasakan masa kini.

Hubungan bilateral kali ini saya khususkan pada bidang kebudayaan Belanda (Amsterdam) kepada Magelang. Ini merupakan rangkaian acara kedutaan Indonesia di Belanda, berkolaborasi dengan Kedutaan Belanda di Indonesia. Rangkaian acara tersebut diantaranya terselenggara di Medan, Jakarta, Yogyakarta dan berakhir di Magelang pada 19 April 2012. Memang sudah lama, namun kegiatan ini sangat jarang terjadi, terlebih di kota kecil seperti Magelang. :)
Siapakah duta Belanda yang akan tampil di Magelang ??? Dialah Tim Knol.
Di Eropa nama Tim Knol sudah tak asing lagi. Walaupun masih muda (22 tahun / 2012 silam), lagu-lagunya banyak yang menjadi hits dengan aliran jenis musik Britpop-nya. Tim Knol membawa awak bandnya Matthijs van Duijvenbode (keyboard), Jeroen Overman (bas), Kees Shaper (drum), dan Anne Soldier (gitar). Dan kali tersebut, pada 19 April 2012 mereka beraksi di Prambanan Convention Hall, Hotel Puri Asri, Magelang.
Di tahun 2012, Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, membawa mereka kembali untuk konser yang jauh lebih besar. Dalam rangkaian perjalanannya yang unik adalah di Jakarta 14 - 15 April 2012. Ini dikarenakan mereka berkolaborasi dengan musisi legendaris Indonesia: Koes Plus. Tak ada kegugupan antara mereka yang terpaut usia sangat jauh seperti kakek dan cucunya. Mereka dianggap kolaborasi yang unik, sebab mereka memiliki influence musik yang sama, band asal Inggris yaitu The Beatles.

Tim Knol and Band juga memiliki agenda meluncurkan album Days (2012) sebagai kelanjutan dari album perdana yang meluncur 2010. Di album Days, salah satu lagu yang menjadi hits di internasional yakni Do You Leave The Light On. Musisi yang berbasis di Amsterdam ini sempat tampil di Jakarta lahun lalu, dan mereka berhasil mendapatkan basis penggemar lokal di Indonesia. Kemudian di 2013 Tim Knoll juga membuat album yang bertitel Soldier On

TIM KNOL
Tim Knol lahir tahun 1989 dan dibesarkan di Hoorn sekitar 35 kilometer utara Amsterdam, Belanda. Ia mulai memainkan musik pada usia 10 tahun. Di sana, ia membuat band pertamanya: Be Right Back, dan Tim berposisi sebagai vokalis + bermain gitar . Selain itu, Tim memiliki proyek sendiri dengan mencatat beberapa lagu solo. Pada bulan Mei 2008 ia bermain di De avond van het kippenvel di Utrecht, diundang oleh Anne Soldaat , mantan personil band Daryll Ann. Bersama-sama mereka merekam beberapa demo oleh label lokal: Excelsior Recording . Pada bulan Mei 2009 ia memutuskan untuk keluar dari band, dan memulai karir solo secara profesional. Pada bulan Juni 2009 hasil pertama dari solo karir, album Godley & Creme Cry, muncul di album kompilasi Guilty Pleasures.
 
Setelah Lowland Festival (3 hari Festival kesenian terbesar di Belanda) pada bulan Agustus 2009, Tim menandatangani kontrak rekaman dengan label Rekaman Excelsior. Record Debutnya menerima pandangan positif di media Belanda. Di album Knol dibantu oleh Jacob de Greeuw, Jeroen Kleijn dan Matthijs van Duijvenbode dari Johan (band asal Belanda), Anne Soldaat dan Reyer Zwart (dari band Do The Undo). Tim Knol pertama kali menyajikan lagu-lagunya sebagai tindakan dukungan untuk Johan band, selama tur perpisahan mereka di paruh kedua tahun 2009. Setelah beberapa mencoba konser (tour kecil), Knol dengan band barunya mencoba ajang yang lebih besar di Festival Noorderslag di Groningen Januari 2010.

Sampai saat ini Tim Knol memilik 3 album:
- Tim Knol (2010)
- Days (2011)
- Soldier On (2013)

TIM KNOL KONSER DI MAGELANG
Tak banyak orang tahu tentang musisi yang satu ini, terkhusus di Magelang. Jujur, awalnya saya juga tidak mengetahui siapakah sosok Tim Knol sebelumnya. Pengumuman bahwa Tim Knol akan mengadakan konser di Magelang saya ketahui melalui media sosial Facebook. Saya pikir, ini sangat langka, mengingat Magelang hanyalah kota kecil, namun orang dari mancanegara yaitu Belanda mau mengadakan konser. Sebelum menhadiri, saya harus tau siapakah Tim Knol. Amazing !!! Tim Knoll and Band adalah musisi yang hebat di era ini dan begitu populer di Eropa. Kemudian saya berpikir bahwa saya harus sempatkan waktu untuk menontonnya pada Kamis 19 April 2012 di Prambanan Convention Hall, Hotel Puri Asri, Magelang. Satu kesempatan istimewa, bahwa tiket konser adalah gratis dan bisa diambil langsung di stasiun radio Polaris FM Magelang.

SOURCE
Hari sebelum pentas konser digelar, Tim Knol dan kawan-kawan mengunjungi dan interview sejenak di radio lokal Magelang: Polaris FM. Dalam wawancaranya, mereka sesekali ingin menunjukkan kecintaannya pada Indonesia dengan sedikit berbicara bahasa Indonesia. Namun justru menjadi tawa karena tidak fasihnya mereka. Kata-kata ini terkadang muncul di sela canda ketika interview dengan mereka: “Selamat Siang”, “Paling Jempol”, “Kasian Deh Lu”, “Ayo Joget”.

Pak Walikota Pidato
Tanpa molornya waktu, Kamis 19 April 2012 pukul 19.30 konser dimulai. Acara dimulai dengan sambutan Walikota Magelang, dan setelah lagu pertama rombongan dari pemkot termasuk pak Walikota meninggalkan acara ini.... hey kalian melewatkan gitu aja, ini konser keren lho !!! ...piss... v(^_^!)v
Tim Knol dan kawan-kawan langsung menggebrak dengan lagu yang cukup memiliki beat yang agak cepat When I am King yang notabene adalah lagu andalan mereka di album Tim Knol (2010). Semua penonton menikmati dengan riang gembira. Ada keanehan pada Tim ketika itu. Tim merasa kepanasan (mungkin karena suhu di negara tropis), kemudian Tim melepas sepatunya yang dianggap ribet, kemudian tanpa beralaskan kaki dia melakukan konser dari awal hingga akhir.
Di suatu lagu yang berjudul Sam, para penonton diajak interaksi dengan menyanyikan sambil tepuk tangan di reff lagu tersebut.
Sam

Sam's leaving on a midnight train
Holes in his shoes
Holes in his brain
Holes in his pocket where the money goes through
What an excuse to leave a one way ticket too

reff:
Sam's leaving town, Sam's leaving town
Sam's leaving town, Sam's leaving town
He lost control

He tried to live his own rock and roll
But after many years he lost his self control
Every band rehearsed a tune out into a big fight
Now be smart Sam, turn on your light

 berikut lagu dan Video clip nya:

Lagu yang sangat keren dinyanyikan bersama-sama. Waktu menonton konser ini sangat tidak terasa. Meluangkan waktu menonton konser ini benar-benar melepaskan sedikit penat, mengingat jarang sekali musisi mancanegara yang mengunjungi Magelang.

Tim Knol and Band pada awalnya mengagendakan 8 - 10 lagu saja (dari album 2010) di sebuah tour di Indonesia. Namun antusiasme penonton di Magelang yang begitu support dengan musik Britpop sekelas Tim Knol, maka mereka menambah lagu dengan senang hati. Terdengar teriakan dari penonton "One More !!! One More !!!" maka Tim Knol and Band menambah agenda tak terduga lagu mereka. Bahkan mereka menambahkan 5 perform lagu kepada penonton. Ya, sangat berkesan ketika itu, dan saya selalu teringat di kala itu. Kemudian lagu ditutup dengan lagu Koes Plus - Kembali. Penonton pun antusias untuk bernyanyi bersama.

Tepuk tangan yang sangat meriah mengakhiri acara. Dan penonton diberi kesempatan untuk foto bareng Tim Knol and Band. 

Pengalaman Tak Terlupakan ...
Ada suatu perasaan pengalaman yang tak terlupakan melalui konser Tim Knol ketika masih ada ikatan emosional antara Belanda - Indonesia (Magelang). Ikatan emosional ini bukan lantaran penjajahan kolonial, namun ikatan emosional bahwa ada dukungan di bidang kebudayaan. Ada pertukaran budaya, dimana kita dalam berbangsa memiliki sikap dan sifat bilateral yang bersaudara tanpa memandang RAS. Dan semoga kita selalu memiliki hubungan yang baik dalam bernegara, tidak hanya dalam satu negara, namun kepada semua negara.

FAKTA KONSER MUSIK TIM KNOL di MAGELANG:
- Tiket berupa undangan gratis yang bisa diambil di Stasiun Radio Polaris FM

- Lagu yang berjudul Sam: Tim membuat lagu untuk teman-temannya yang sudah kecanduan alkohol. Dia ingin menasehatinya tapi sayangnya temannya tidak mendengarkan itu. Setiap videoclip Tim Knoll biasanya perpaduan gambar seni modern.

- Hanya Tim Knol yang tidak beralas kaki (entah sepatunya hilang, atau kepanasan)

- Sang pemain Keyboard yang bernama Matthijs van Duijvenbode selama tour konser di Indonesia hanya mau dipanggil dengan nama Merpati.

- Setelah kata sambutan, rombongan dari pemkot termasuk pak Walikota meninggalkan acara setelah lagu pertama.

- Tim Knol dan crew mengatakan bahwa: Magelang memiliki penonton yang paling meriah selama tour Tim Knol and Band di Indonesia.
Merpati dan Saya

Magelang stad wacht op u allen

Wednesday, 8 January 2014

MINGGU PAHING DI MAGELANG


Minggu pagi suasana masih mengembun di Magelang. Ketika embun belum menguap oleh mentari, sudah banyak orang berdatangan ke pusat kota Magelang. Orang-orang berdatangan tidak hanya dari Magelang saja, namun dari berbagai kota. Mereka berbondong-bondong ke pusat kota tidak berarti tak mempunyai alasan. Magelang sudah dikenal lama oleh warga Kedu, ketika hari Minggu Pahing (Pahing = hari Jawa) pasti mengadakan acara pengajian di Masjid Agung Magelang.

Tak sedikit pula orang Magelang "modern" yang mengetahui acara rutin Minggu Pahing di Masjid Agung. Terkadang orang Magelang kota acuh dengan acara ini karena dihadapkan dengan rutinitas sehari-hari yang lebih menarik, sehingga mereka melupakan bahkan tidak tahu tentang kearifan bersifat kelokalan seperti kegiatan Minggu Pahing di Masjid Agung Alun-alun Magelang. Semua ini tidak sepenuhnya kesalahan mereka, ketidaktahuan ini karena hanya kurang informasi saja mengenai hal tersebut. Ya, di media populer saja jarang yang menuliskan agenda ini. Namun saya pribadi sangat optimis, kalau kearifan lokal Minggu Pahing ini tidak akan punah dan tetap menjadi tradisi luhur. :)

Sedikit menyinggung tentang Minggu Pahing di Magelang, masyarakat pasti sudah paham tentang keistimewaannya. Minggu Pahing dianggap istimewa, karena pasti akan ada pengajian akbar. Banyak orang dari kota, kabupaten, bahkan (tidak mengurangi rasa hormat) jauh-jauh dari gunung pun menyempatkan diri untuk menghadiri pengajian di Masjid Agung Magelang. Magelang - Kedu memang sangat terkenal akan masyarakat yang religius dan toleransinya. Ini sangat terbukti, karena kawasan alun-alun Magelang di hari Minggu umat Nasrani dan umat Muslim saling berpapasan untuk beribadah di tempat ibadah yang saling berdekatan (Masjid Agung Magelang, Gereja St. Ignatius, GPIB dan Klenteng Liong Hok Bio) dan tidak ada masalah.


Ini serunya kalau Minggu Pahing di Magelang tiba. Karena banyaknya orang berdatangan dari wilayah "lingkar" Magelang, maka banyak orang yang berinisiatif berjualan di alun-alun bagian barat dan selatan. Ya, berjualan secara mendadak dan hanya pada satu waktu saja. Para pedagang ini biasa menyebut dengan pasar tiban. Pasar Tiban Minggu Pahing merupakan satu kesatuan yang tidak akan terpisahkan dari pengajian Minggu Pahing di Masjid Agung Magelang. Memang pasar tiban ini tidak seramai pasar konvensional yang biasanya. Namun sangat unik karena barang yang dijual sangat unik, seperti peralatan untuk beribadah, pakaian, makanan jadul, tasbih, ali-ali (cincin), gelang, tembakau dan sebagainya. Ini tidak akan terlihat di hari biasa, kecuali hari Minggu Pahing. Para pedagang ternyata tidak semata mementingkan sisi ekonomi saja, namun memiliki sisi "religius" ngalap berkah. Ngalap Berkah ini menandakan bersyukur kepada Tuhan atas berkah yang di dapatkan (jasmani-rohani). Sisi kearifan lokal sangat kental dengan adanya interaksi antar manusia, ditandai dengan tidak membedakan unsur SARA melihat kompleksnya budaya-religiusitas sekitar alun-alun kota Magelang.  Ya, inilah uniknya budaya lokal Minggu Pahing di Magelang.
Berjualan Tembakau dari Temanggung
Berjualan makanan: gorengan, arem-arem,
keripik melinjo, pisang rebus, dll.

MINGGU PAHING DI MAGELANG

Penanggalan Jawa sekarang kurang diminati oleh masyarakat "modern" kebanyakan (termasuk saya) hehe.... Ini dikarenakan orang menganggap bahwa sistem penanggalan Jawa tidak praktis dan banyak sekali maknanya. Ada juga orang yang takut mengetahui sistem penanggalan tersebut karena ada unsur hari baik dan hari buruk. Memang banyak yang menganggap unsur mistis masih melekat dengan sistem penanggalan tersebut. Dengan berbagai latar belakang itu, orang menganggap bahwa semua hari adalah sama baiknya. Itu juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena sebenarnya salah pengetian saja dengan sistem penanggalan Jawa. 

Menurut Primbon, setiap penanggalan tersebut memiliki makna dan tujuan. Primbon merupakan sistem perhitungan atau ramalan berkaitan dengan aktivitas orang Jawa. Menurut kepercayaan Jawa, arti dari suatu peristiwa dapat ditentukan dengan menelaah saat terjadinya peristiwa tersebut menurut berbagai macam perputaran kalender tradisional. Salah satu penggunaan yang umum dari metode ini dapat ditemukan dalam sistem hari kelahiran Jawa yang disebut wetonan.

Weton merupakan gabungan dari tujuh hari dalam seminggu (Senin, Selasa, dst) dengan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Perputaran ini berulang setiap 35 (7 x 5) hari, sehingga menurut perhitungan Jawa hari kelahiran kita berulang setiap lima minggu dimulai dari hari kelahiran kita.

Makna Minggu Pahing
Ternyata, tidak ada salahnya juga mengerti soal penanggalan jawa. Menurut berbagai sumber yang saya baca, makna dari Minggu Pahing di primbon Jawa adalah: 
  • Menurut pengertian tradisional, orang yang lahir pada hari Minggu Pahing diakui memiliki kemampuan yang mengagumkan di bidang apa saja yang digelutinya. Mereka adalah pribadi-pribadi kuat yang mampu mempertahankan pendapatnya dalam keadaan sulit sekalipun. Tetapi mereka juga berpikiran luas dan cenderung ditanggapi dengan baik dalam lingkungan sosial.
  • Anehnya, kelompok ini dapat benar-benar ahli dalam menyembunyikan (atau memendam) perasaan-perasaan yang tidak enak seperti kemarahan, kesedihan, atau penyesalan.
  • Kontrol diri semacam itu sangat menguntungkan bagi seorang politikus, doktor UGD, atau agen rahasia. Namun, semoga sifat ini tidak berakibat pula pada terpendamnya perasaan-perasaan yang semestinya ditunjukkan secara terbuka kepada orang-orang yang mereka cintai.
Masjid Agung - Minggu Pahing di Magelang

Masjid Agung Magelang 1920
Source: KITLV (klik)
Kegiatan keagamaan di Masjid Agung Magelang ini tak terlepas dari sejarah, yaitu berawal dari penentuan arah kiblat masjid. Kiblat Masjid Agung Magelang ini merupakan salah satu dari 3 masjid di Jawa Tengah yang mempunyai kiblat lurus dengan Mekah, dua masjid lainnya adalah masjid di Grobogan dan Masjid Agung Jawa Tengah. Walau sudah berulang kali mengalami pemugaran kiblat masjid ini tidak pernah dirubah sejak pertama didirikan oleh KH Mudakir.
 
Pada saat didirikan oleh bupati pertama RA Danoeningrat I, kepengurusan dilakukan oleh bidang kepenghuluan. Setelah Departemen Agama (Depag) berdiri sekitar tahun 1945, masjid ini dikelola oleh Depag. Baru pada tahun 1960 terbentuk kepengurusan takmir masjid.
Setelah terbentuk kepengurusan takmir masjid, kegiatan keagamaan kian tertata dan maju. Salah satu tradisi yang masih terjaga hingga sekarang adalah Pahingan yang dilakukan selapan (35 hari) pada hari Minggu pahing. Kegiatan ini dilakukan mulai tahun 1967, jamaah yang datang pun bukan hanya dari Kota Magelang namun juga dari luar kota dan kabupaten. (Bhekti Wira Utama).

RELEVANSI

Kita patut berbangga memiliki sistem tata kota dengan tingkat budaya sosial yang stabil di Magelang. Melihat tata kota alun-alun kota yang memiliki "lingkaran emas" tempat ibadah (Masjid Agung Magelang, Klenteng Liong Hok Bio, Gereja St. Ignatius dan GPIB) yang digunakan masing-masing di hari yang sama, namun saling menunjukkan sikap toleransi. Ini sangat terbukti ketika setiap acara Minggu Pahing di alun-alun Magelang terlaksana dengan rapi, tertib dan bersih.

Kegiatan masyarakat seperti ini seharusnya bisa menjadi jagar budaya yang sangat istimewa. Lihat saja segi kelokalan yang masih tetap bertahan di cepatnya perkembangan jaman. Secara nyata ditunjukkan sisi religius dan ekonomi masyarakat kecil (di luar tempat ibadah) berdampingan. Bukan melulu soal mencari materi berbentuk uang, namun mensyukuri berkah jasmani-rohani sudut pandang kearifan lokal. Hal seperti ini seharusnya lebih diperhatikan dan dilestarikan daripada pemikiran "modernisasi" memperbanyak bangunan-bangunan baru seperti ruko dan toserba yang cenderung lebih ke budaya konsumerisme.

Kemajuan jaman dan teknologi memang tidak bisa ditahan. Justru manusia harus update soal modernisasi kemajuan teknologi dan jaman. Namun ada yang kadang disayangkan apabila tradisi lokal disinyalir akan menjadi pudar secara perlahan. Kita kadang lupa, kearifan lokal itu merupakan filter ampuh dalam menghadapi era globalisasi modern. Tradisi kearifan lokal merupakan jati diri Indonesia. Apabila sebuah tradisi dihilangkan, maka mulai runtuhlah jati diri. Dan kita berakhir dengan "disetir" budaya baru (yang entah itu budaya yang baik atau buruk apabila tidak pakai filter kearifan lokal).

Ya, semoga kearifan lokal Magelang ini tidak punah oleh ulah masyarakat Magelang sendiri. Tugas kita semua menjaga dan melestarikannya. :)

SAVE HISTORY AND HERITAGE IN MAGELANG

Referensi:
KOTA TOEA MAGELANG

Saturday, 28 December 2013

PINTU AIR PENGATUR KALI MANGGIS - MAGELANG

Poncol - Magelang,
14 September 2012

Sejujurnya, lagi-lagi ini tulisankku yang lawas yang pernah muncul di group FB: KOTA TOEA MAGELANG.... hehe....
Karena ingin berbagi aja lewat blog, maka saya tuangkan biar para pembaca tahu tentang pintu air ini. Soalnya, terkadang orang Magelang pun tak begitu tahu arti pentingnya pintu air Poncol ini. :)

Tetibanya saya di Poncol, lebih tepatnya lokasi pintu air pengatur kali manggis Magelang, saya disapa oleh pria ramah sang penjaga pintu air. Dia bernama pak Muhidin. Sesekali menceritakan tentang keluarganya dan tentang fungsi pintu air tersebut. Ia telah mengabdi menjaga pintu air selama 27 tahun dengan 5x perpindahan lokasi. Dan dia tidak pernah mengeluh tentang pekerjaannya, terlebih di saat musim hujan dia akan selalu menjaga pintu air agar Magelang tetap aman dalam pengaturan air. SALUT !!!

Pernahkah terpikir apabila di Poncol tidak ada pintu air??? Pasti Magelang sudah banjir bandang karena air yang datang tidak diatur dengan baik....

Di era kolonial, tanggul buatan yang biasa disebut kali kotak (di Poncol) berperan penting karena sebagai pengairan sawah. Dan perlu adanya pengaturan debit air. Dan fungsi utama pintu air yang legendaris inilah sebagai pengatur debit air. Apabila debit air yang datang melebihi standar yang ada pada indikator, maka pintu air ini akan dibuka secara stimultan agar tidak mengalami banjir. Dan debit air yang datang juga dapat dikendalikan karena dapat dialihkan. Pengalihan/pembagian dari poncol ke daerah aliran yang lain juga melewati daerah Samban bawah.

#NB:
Oh iya, tulisan ini hanya berfokus pada pintu air saja.

Fakta:
yang menjadi unik dari bangunan ini adalah:

1. Pintu air yang terbuat dari kayu Ulin (biasa disebut dengan kayu besi) yang masih kuat sampai sekarang dan tidak lapuk, bahkan paku biasa tidak mampu menembus kayu ini.

2. Saluran air berundak

Friday, 20 December 2013

Museum Masuk Mall

Pernah mendengar jargon: Ayo Ke Museum !!!

Jargon tersebut merupakan ajakan kepada masyarakat agar lebih membudayakan tamasya edukasi ke museum. Dewasa ini di negara kita, tamasya ke museum sangat tidak populer. Dari hasil survey, tamasya ke museum menjadi destinasi terbawah. Di tulisan saya sebelumnya sudah saya paparkan mengapa wisata museum tidak populer. Fenomena tersebut ada pada tulisan saya yang ini: Museum Itu Tak Seharusnya Membosankan.

Nampaknya jargon tersebut masih kurang diminati untuk 1 tahun teakhir. Museum diminati katika terpaksa saja. Misalnya saja orang "bertamasya" karena tugas sekolah atau berdarma wisata saja. Jujur saja, memang susah mengembangkan museum. Kenapa saya katakan susah ??? Salah satu alasannya adalah gaya hidup yang berubah. Mungkin saja dulu destinasi tempat wisata hanya terbatas. Namun sekarang sangatlah beragam dan banyak destinasi dengan tujuan yang beragam pula.

Gaya hidup masyarakat semakin berkembang. Tidak hanya di kota besar, di kota kecil pun memiliki pola gaya hidup yang berubah juga. Saya contohkan, gaya hidup orang ke mall menjadi destinasi "tempat wisata". Saya soroti seperti itu karena disamping dianggap tempat refreshing modern oleh kalangan orang tertentu, ke mall juga diidentikkan dengan gaya hidup yang "update" dibandingkan mengunjungi museum yang tidak berkembang. Di samping itu juga, mall di jaman sekarang yang bukan merupakan tempat "elite" lagi ini menyajikan diskon yang membuat segelintir orang ingin ke mall daripada ke museum yang membosankan.
Ya, fenomena itu yang ditangkap oleh para penggiat museum dan pihak yang terkait dengan permuseuman. Secara hasil akhir saja, pengunjung mall jauh lebih banyak daripada pengunjung museum. Destinasi tujuan refreshing yang memiliki sisi edukasi seperti museum semakin terpojokkan.

Namun tidak hanya berkeluh kesah saja, museum sekarang juga lebih modern. Saya optimis kalau destinasi tamasya ke museum bisa ditingkatkan. Salah satu caranya adalah mengikuti perkembangan jaman dan mengikuti perilaku gaya hidup secara update. Pendekatan ini sudah seharusnya dilakukan agar museum lokal tidak tergilas jaman. Tidak ada salahnya cita rasa histori disajikan secara modern yang tidak membosankan.

Yuk kita bahas museum secara tidak membosankan:
MUSEUM MASUK MALL

Tema ini saya ambil karena ada sesuatu yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh mall yang ada di Magelang. Saya tidak menyoroti mallnya ya.... hehe.... yang saya soroti adalah apa yang dilakukan museum adalah sesuatu pendekatan yang unik, yaitu museum masuk mall.
Mengenalkan aspek sejarah, dengan sisipan kesenian lokal Magelang yang dilakukan di dalam mall memang tidak lazim. Namun menjadi pusat perhatian di mall ini berarti sebenarnya museum masih menjadi salah satu destinasi tempat bertamasya yang masih digemari. Hanya saja calon pengunjung menginginkan adanya "update" dengan jaman yang terus berjalan.

Dengan adanya kegiatan ini, maka semakin menyenangkan terlebih mengenalkan museum kepada anak muda. Museum yang masuk mall ini dianggap gaul dan dianggap mewakili gaya hidup anak muda yang trendi. Semua hal tersebut bisa dilakukan dengan menggandeng beberapa komunitas. Seperti acara tersebut, yang pernah dilakukan oleh Museum benteng Vredeburg Yogyakarta pda tanggal 7 - 10 Desember 2013 adalah menggandeng anak muda dari theater Fajar UMM (Universitas Muhammadiah Magelang) dan gabungan dengan kesenian UTM (Universitas Tidar Magelang). Kegiatan ini dilandaskan dengan tema: Pahlawan dan Kepahlawanan "belajar dari pahlawan".


Museum jangan canggung dalam menggandeng beberapa komunitas. Karena dengan menggandeng komunitas, maka destinasi museum bisa tetap berjaya. Tentunya dalam bekerjasama ini ada timbal balik yang sepadan. Akan sangat keren dan beken ketika kreativitas anak muda didukung sepenuhnya dengan kemasan yang tidak membosankan. Dan ternyata banyak pengunjung mall yaitu anak muda yang masih peduli dengan museum. 
Tari: Dayakan

KESIMPULAN PRIBADI
Jadi kesimpulannya adalah: anak muda menginginkan "kemasan" yang baru tentang museum. Dan saya sendiri optimis dengan pesona museum yang bisa "update" seperti fenomena Museum Masuk Mall, dan seyogyanya sikap skeptis pada museum dihilangkan, ya minimal dikurangi.... hehe.... 
yang diharapkan adalah masyarakat tidak meninggalkan sejarah begitu saja. 

Ya, Belajar Dari Pahlawan.... :)


Thursday, 19 December 2013

RUMAH BAYEMAN - MAGELANG (komparasi fotografi: Johanna Gerarda Jacoba)

Oh iya, sebenarnya ini tulisan lama saya yang pernah diposting di Group FB: KOTA TOEA MAGELANG
Sabtu, 1 Desember 2012

Rasa penasaran selalu terngiang ketika melintas rumah yang berada di Bayeman ini. Kring-kring, Sabtu pagi saya dan Anglir Kanaka bersepeda. Rute yang sama selalu diagendakan ketika bersepeda pagi adalah: Rumah - AlunAlun - Lapangan Rin - Lewat Pecinan - Pulang. Sembari olahraga dan refreshing, selalu tidak terlepas pandangan akan sesuatu hal yang menarik perhatian. Kebetulan pagi itu sempat merasakan es krim toko Bie Sing Ho di Poncol yang fenomenal sejak tahun 1945 sampai sekarang, dan masih eksis.

Cerita ini berawal ketika rute pulang bersepeda kami alihkan lewat Bayeman. Melihat rumah kuno khas Kolonial yang dipadukan dengan adat Jawa (NB. kolonial: besar dengan pekarangan di depan , Adat jawa: dengan pintu banyak di teras) sangat memekakan mata. Di sana kami melihat 3 pintu utama terbuka lebar dan anehnya kosong. Dalam hati ada pertanyaan, kenapa kosong??? Kemudian saya beranikan diri memasuki rumah tersebut karena perasaan "penasaran" saya akan arsitektur rumah tersebut.

Alangkah terkejutnya ketika mulai memasuki halaman, dan terlihat jelas dari depan sampai dalam rumah yang kosong tanpa benda di dalamnya. Dengan niatan baik kami berkunjung yang mendapati pak Muhndori sebagai penjaga baru. Baru setengah tahun ia menjaga rumah itu yang telah berpindah tangan belum lama ini. Perasaan cemas dan penuh spekulasi ketika adanya pindah tangan kepemilikan. Semoga pikiran buruk tidak terjadi :D

Dengan sedikit bercengkrama, saya mengeluarkan sedikit data dan foto yang sudah dipersiapkan mengenai rumah tersebut. Saya mendapati foto KITLV dan sedikit caption kalau Johanna Gerarda Jacoba pernah tinggal di sini pernah bekerja sebagai Guru atau Aktivis Bidang Kesehatan. Pendapat saya waktu itu adalah bahwa ia sering muncul di KITLV, bahkan banyak foto menampilkannya. Ini menunjukkan bahwa ia orang penting dan mempunyai peran vital di jamannya. Seiring bercerita dan meminta info di KTM sangat minim dan jarang orang yang tahu. Membuat saya semakin penasaran siapakah sebenarnya sosok Johanna Gerarda Jacoba yang konon pernah mendiami rumah ini dari 1927 - 1934.

Pikiran saya mentok dan tidak ada kata yang terucap kecuali kekaguman pada arsitektur tersebut. Sesekali saya SMS pak gub Bagus Priyana untuk mencari info. Dan ternyata dia pun kurang mengerti seluk beluk rumah ini dan kepemilikannya terdahulu.

Kesulitan utama dalam petualangan kali ini adalah menggali info yang terkait dengan rumah ini beserta pemiliknya. Karena minimnya informasi, dugaan sementara rumah ini adalah milik dokter ternama: Meneer Bijveled kepala RS Tentara di Magelang. Kemungkinan besar, Johanna Gerarda Jacoba adalah sahabat atau masih kerabat dengan Meneer Bijveled. Sosok yang akrab dipanggil An Weigman ini tinggal di Jl Bayeman, di pavilliun yang pernah dipakai praktek Dokter Narto, spesialis anak 

Sedikit bercerita tentang deskripsi rumah:
- Memiliki Paviliun dengan rumah terpisah
- 1 Rumah utama dengan 4 Kamar, 1 teras depan, 1 Ruang Tamu, 1 ruang makan, 1 kamar mandi dalam.
- satu kamar yang saling terhubung dengan satu kamar lainnya (dengan pintu)
- di bagian belakang ada kamar bersekat (diduga ada kamar pembantu saat itu)
- Taman kecil di belakang rumah
- Setiap kamar ada wastafel

Perasaan kagum dan terheran-heran melingkupi saya karena impian saya terkabul memasuki rumah tersebut... hehe...




Jujur, saya bukan fotografer handal. Hanya berbekalkan SE K618i, Canon IXUS 800 IS dan melihat data foto lawas yang ada di KITLV sekitar tahun 1928 kami berhasil melakukan tapak tilas foto sangat menarik sebagai tujuan utama saya. Berasa seperti sinyo dan noni waktu itu. Membayangkan bagaimana saat itu minum teh di kebun dan camilan lawas biskuit khas Belanda di pagi hari yang masih sejuk di kala itu.
Source: Klik
Sangat menyenangkan ketika kita terhanyut dalam suasana yang sebenarnya terpaut hampir 1 Abad. Perasaan haru juga terlintas ketika kita belum tahu bagaimana kondisi bangunan ini ke depan. Terlebih bagaimana pemerintah cepat tanggap soal bangunan kuno yang memiliki nilai "iSurprise dan iSee" untuk wisata kolonial. Semoga kita bersama dapat menjaga semua bangunan tua yang ada di Magelang. Tidak hanya mementingkan aspek ekonomi (membangun bangunan baru dengan menghancurkan bangunan lama).
Namun bagaimana cara kita menghargai kebudayaan dan arsitektur di era sebelum kita.

Siapakah Sebenarnya Johanna Gerarda Jacoba ???
Jujur, infonya sangat minim dan saya pribadi sangat kesulitan dalam menggali info di berbagai sumber. Menurut album KITLV Nyonya itu bernama Johanna Gerarda Jacoba Wiegmans (An Wiegmans). Lahir di Vreeland 1896 dan meninggal di Den Haag 1987. Pernah tinggal di Magelang sekitar 1927 - 1934 dan di Poerworedjo 1935. Ia seorang pekerja sosial di bidang kesehatan masyarakat, tapi pernah juga mengajar di kelas MULO. MULO (singkatan dari bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia.
Source: Klik
Tahun 1935 Johanna Gerarda Jacoba Wiegmans (kanan) melakukan perjalanan pulang menggunakan kereta api dari Marseille (Prancis) menuju Belanda. Gadis 38 tahun kelahiran Vreeland 10 Januari 1896 ini mungkin lelah, namun ia puas telah keliling separuh dunia. Ia telah tinggal di Magelang selama 7 tahun dari tahun 1927 hingga 1934. Selama tinggal di Magelang ia telah menelusuri daerah wisata di pelosok Magelang, juga keluar kota ke Purworejo, Kuningan, Garut, Majalengka, Subang, Lembang, Bali, dan Lombok.
 
Sewaktu berangkat menuju Hindia Belanda, ia mampir di Genoa (Italia), United Kingdom (Inggris), Singapura, dan Algeria melalui Terusan Suez dan Port Said. Saat pulang ke negerinya, ia juga mampir di Colombo (Srilanka) dan meneruskan perjalanan pulang menggunakan kereta api dari Marseille (Prancis).

Anak dari Martinus Wiegmans dan Agnes van Deudekom ini mungkin juga ingin segera bertemu dengan kakak-kakaknya di Belanda yaitu Franciscus Johannes Wiegmans, Agnes Christina Wiegmans, Carolus Camiel August Baerwaldt, Helena Gerarda Maria Wiegmans, Jakobus Hendrikus Franciscus Bernsen, serta dua adik kesayangannya yaitu Agnes Christina Wiegmans dan Maria Martina Wiegmans.
 
Selamat tinggal Magelang, aku akan melanjutkan hidup di Den Haag. 
 
SAVE HERITAGE AND HISTORY IN MAGELANG.

#TIPS
tips agar kita bisa mendapatkan kesempatan masuk/mendokumentasikan seperti ini, karena anda tidak akan punya waktu banyak untuk mengumpulkan data lapangan:

- Pelajari materi target.
- Kalau bisa memiliki data (tertulis dan foto lengkap).
- Itikat baik mencari info dengan komunikasi yang baik.

Ternyata cara seperti ini terdengar oleh wartawan dari media harian Republika waktu itu (Minggu, 26 Mei 2013 halaman 5, rubrik Jelajah). Dalam rubrik tersebut dijelaskan bagaimana suka duka saya dalam mendapatkan info terkait dengan rumah Bayeman tersebut. Tidak hanya saya yang mendapatkan kesempatan ini, namun Dwi Fatrianto asal Surabaya juga mendapatkan kesempatan yang sama dalam rubrik tersebut. Sangat beruntung saya bisa menginfokan tentang Magelang lewat media yang bisa dinikmati semua lapisan masyarakat.
sumber foto lama:
http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/grid/form/advanced?q_searchfield=Johanna+Gerarda+Jacoba