Thursday, 3 July 2014

JELAJAH CANDI: Lumbung - Asu - Pendem - Losari - Gunung Wukir - Ngawen

Wow amazing mek judulnya panjang sekali !!! hehe.... :D

Itu merupakan judul jelajah kali ini bersama komunitas Magelang: KOTA TOEA MAGELANG dan juga bersama WALANG (Komunitas Watu Magelang). Event yang bertajuk “DJELADJAH TJANDI & SITOES” pada hari Minggu Pahing, 22 Juni 2014 ini memiliki rute yang cukup panjang, range 10-20 Km di kabupaten Magelang. Rute ini mengunjungi candi:  Asu -  Pendem - Lumbung - Losari - Gunung Wukir - Ngawen.
Sumber Gambar: Ake Ru

Mengulik candi di kawasan Magelang tidak akan pernah ada habisnya. Lokasi Magelang yang sangat strategis diapit 7 gunung, tak hayal kawasan Magelang dianggap surga-dunia oleh era Hindu-Budha yang juga dianggap sebagai tempat tinggal para dewa.

"Bumi Magelang yang subur ini semenjak dahulu memiliki peradaban yang tinggi. Bagaikan harta karun yang tak ternilai harganya. Berbagai peninggalan bersejarah berserakan di wilayah ini, termasuk peninggalan berupa situs dan candi yang merupakan peninggalan di jaman Hindu dan Budha. Jejak-jejak sejarahnya masih bisa kita temukan hingga sekarang, baik berupa situs, artefak maupun candi"

#Intermezo:
Tak hayal dalam tema ini saya sangsi dengan slogan Magelang Sejuta Bunga, namun secara realita seharusnya Magelang Sejuta Candi. Tak bisa dibayangkan ketika era Hindu-Budha, betapa makmur dan indahya peradaban di magelang dengan kemegahan bangunan candi. Banyak pertanyaan: "bagaimana cara membangun candi dan berapa lama membangun sebuah candi?" mengingat rekonstruksi 1 bangunan candi saja bisa mencapai 10 tahun lamanya. Secara sisi positif, ini menunjukkan bahwa pemerintahan dan rakyatnya bersatu padu dalam membangun satu peradaban.
Sumber Foto dari om Begawan Prabu:
KLIK
Sumber Foto: Retno Wijayanti
Kembali ke event “DJELADJAH TJANDI & SITOES", event hari tersebut merupakan hari yang istimewa bagi saya pribadi, dan dengan mbak Ekowati Lestari. Sesaat sebelum acara dimulai, saya mendapatkan kejutan yang istimewa. Kejutan tersebut adalah berupa hadiah ulang tahun topi official komunitas KOTA TOEA MAGELANG, padahal hari ulang tahun saya dua hari sebelum event ini dilaksanakan.... hehe.... Saya ucapkan terimakasih kepada semua peserta event yang karena saking banyaknya, sehingga tidak bisa saya tuliskan satu persatu.... hehe....
Identitas
Seperti yang sudah diagendakan, kami mulai pukul 08.15 – 08.30 WIB untuk briefing dan petunjuk teknis pelaksanaan acara. Sedikit pengarahan, setiap kendaraan wajib diberi tanda semacam bendera kecil sebagai identitas, guna tanda rombongan dan agar tidak kehilangan jejak di jalan raya. Yang pada akhir event bendera penanda tersebut "disita" oleh Pakdhe Wotok.... hehe.... Tak lupa mulai pukul 08.30 kami isi "amunisi" sebagai bekal perjalanan.
Isi Amunisi
Sepanjang perjalanan menuju lokasi kunjungan sangat menarik dan eksotis dengan pemandangan indah. Tak lupa panitia mengingatkan: "jangan lupa bawa kamera ya!". Dan siap-siap berkeringat menahan adrenalin karena keindahan sekitar yang luar biasa.

1. CANDI LUMBUNG
 Pukul 10.00 sampailah kami di obyek pertama, Candi Lumbung. Candi Lumbung ini berletak di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Per 2014, Candi Lumbung ini merupakan candi yang dipindahkan dari lokasi sebelumnya. Lokasi sebelumnya berada di atas tebing aliran sungai Apu yang terancam longsor karena dampak aliran banjir lahar dingin letusan gunung Merapi tahun 2010. Sebagai penanggulangan sementara, BPCB (Badan Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Tengah memindahkan ke tempat yang lebih aman. Dalam pemasangan kembali di tempat yang lebih aman, sampai-sampai dilakukan siskamling oleh warga sekitar dan patroli keamanan desa agar batuan tidak dicuri. Dinamakan Candi Lumbung, karena diduga oleh penduduk setempat dulu tempat menyimpan padi.
Candi Lumbung ini berlatarbelakang agama Hindu. Perkiraan candi dibangun pada masa abad 9 Masehi. Dari prasastinya, Candi Lumbung ini kemungkinan diperuntukkan pendharmaan bagi Bhatara di Salingsingan yang ditunjukkan memalui jenis persembahan khususnya berupa payung mas yang diberikan oleh Rakai Kayuwangi. Dan diasumsikan, bilamana Bhatara di Salingsingan ini adalah tokoh penting.
Bersama Komunitas Watu Magelang
Saya sangat terbantu dengan info tambahan yang diberikan komunitas Walang (Watu Magelang) oleh mas Indra Oktora, mas Pilar, dan kawan-kawan. Mereka dengan fasih menjelaskan kepada peserta mengenai info candi dan relief pada candi. Info tambahan tersebut: di dalam candi tersebut terdapat lubang semacam sumur yang dahulu digunakan sebagai air suci untuk ritual keagamaan. Relief Candi Lumbung ini terdapat relief burung kakatua dan guci berisikan bunga Padma (Lotus). Burung kakatua melambangkan salah satu hewan suci dalam mitologi Hindu. Sedangkan guci berisikan bunga lotus melambangkan kesuburan dan kemakmuran peradaban Hindu pada masa itu.
Kiri: Relief Burung Kakatua; Kanan: Relief Guci berisi Lotus
Oh iya, selain itu kami disuguhkan penampilan khusus dari pak Narwan Sastra Kelana. Pakn Narwan menampilkan geguritan (puisi) yang berjudul "Wis Tumeko Titi Wancine" (dalam bahasa Indonesia: Sudah Datang, Tiba Saatnya). Puisi tersebut memiliki makna bahwa Indonesia (Nusantara) memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan Nusantara akan selalu berjaya (jika) di bawah pimpinan orang yang baik dan bijaksana. Akan datang, tiba saatnya (nanti) pemimpin yang berbudi luhur memimpin Nusantara seperti yang sudah diramalkan sebelumnya. Namun terlepas dari kepemimpinan, kita harus berhenti dari perseteruan antar manusia, ingat (menghargai sejarah) dan selalu siaga (eling lan waspada). Dan berpegang teguh pada Tuhan yang Esa.

Berikut penampilan pembacaan Geguritan (puisi) dari Pak Narwan Sastra Kelana

WIS TUMEKO TITI WANCINE
oleh: Narwan Sastra Kelana

Wis Tumeko Titi Wancine
Nuswantoro Bakal Makmur
Kudu Nyawiji Lumaksono Ati
Ojo Suloyo lan Tansah Udur

Delengen Kae
Lingga Yoni Candi Candi
Podho Katon Siji Mboko Siji
Jumedhul Seko Bumi Pertiwi

Prokonco Sedulur Kabeh
Gumregah Cancut Tali Wondo
Ilangono Suloyo lan Cubriyo
Nyawiji Golong Gilig ing Ati

Delengan Kae
Lingga Yoni Candi Candi
Pratondho Wis Tumeko Titi Wancine
Satrio Gung Kang Kinanthi
Hayam Wuruk lan Gadjah Mada
Bakal Tumeko Maneh
Mimpin Nuswantoro Mbrasto Durangkoro

Mulo Poro Sedulur
Lerenono Anggonmu Udur
Eling Marang Welinge Ronggowarsito
Eling Joyoboyo lan Poro Winasis

Wis Teko Titi Wancine
Nuswantoro Bakal Minulyo
Podho Elingo
Sak Bejo Bejone Manungso
Luwih Bejo Kang Tansah Eling lan Waspodo

2. CANDI ASU
Setelah bertolak dari candi Lumbung, tibalah kami di Candi Asu pada pukul 11.00 WIB. Sedikit memberikan info, Candi Asu ini adalah candi yang berlatarbelakang agama Hindu. Candi Asu berletak di kelurahan Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Adapun beberapa prasasti yang ditemukan adalah: Prasasti Sri Manggala II, Kurambitan I dan II yang berisi tentang Sang Pamgat Hino Sang Apus yang menetapkan dharmanya di Salinsingan.
Sementara itu di prasasti lain, prasasti Salingsingan yang bertuliskan angka tahun 802 Saka atau 880 masehi menyebutkan tentang dharma Sri Maharaja Rakai Kayuwangi kepada Bhatara di Salingsingan.

Kemungkinan ditemukan Candi Asu sekitar abad 18 (catatan Belanda). Dari segi arsitektur, candi Asu ini memiliki kemiripan fungsi pada candi Lumbung. Di dalam candi terdapat bidang kosong yang diduga dulu berisi air. Bidang kosong tersebut diapit oleh Ghana yang diduga belum selesai dikerjakan (mahluk kerdil penopang candi). Pada bagian kaki candi Asu ini terdapat relief motif sulur-suluran untaian mutiara, flora dan burung kakatua yang belum selesai dipahat.
Menurut warga sekitar, konon bidang kosong yang berada di Candi Asu pernah digunakan untuk menyimpan senjata dalam masa perang kemerdekaan melawan penjajah Belanda di era kolonial. 

#NB
Beberapa kajian nama Candi Asu dari folklor sekitar:
- Candi Asu kemungkinan dinamai oleh warga sekitar karena di dekat candi tersebut terdapat arca Sapi (Nandi) yang merupakan wahana Dewa Siwa. Warga sekitar yang kurang memahami arkeologi ketika itu dalam temuannya menganggap arca tersebut lebih mirip bentuk Asu (dalam bahasa Indonesia: anjing).

- Dalam candi Asu, kata asu adalah anjing dalam bahasa Jawa. Kata asu adalah perubahan bahasa dalam kebiasaan pengucapan masyarakat Jawa dari kata aso atau mengaso (mengaso dalam bahasa Indonesia memiliki arti istirahat).

- Dalam kajian bahasa Jawa, Asu memiliki 2 suku kata: A dan Su. A yang memiliki arti "tidak" dan Su yang memiliki arti "baik". Ini dibuktikan dengan relief dan arca yang tidak sempurna atau belum selesai pada Candi Asu.
Oh iya, di obyek yang ke dua ini kami kedatangan tokoh sekaligis pematung yang istimewa, dialah pak Leonardus Ismanto. Pak Leonardus Ismato adalah pematung dan seniman asal lereng Merapi yang aktif di kawasan Magelang. Pribadi yang bersahaja dan humoris, pak Ismanto sengaja datang sebagai pematung atas "undangan mendadak" lewat SMS oleh om Begawan Prabu. 

Pak Ismanto berbagi pelajaran penting kepada para peserta, bahwa dia sebagai pematung sangat beruntung tidak bisa menganalisis makna relief pada candi. Dia menjelaskan, karena ketika seorang pematung mencoba menerka makna relief, hasilnya akan hanya berupa pendapat dan opini saja yang keabsahannya bisa meleset yang nantinya akan berakhir pada musrik dengan suatu agama tertentu. Namun patut berbangga hati pada Nusantara, ternyata sebelum agama masuk ke Nusantara, agama asli Nusantara adalah Animisme dan Dinamisme. Suatu adat dan budaya yang sangat istimewa di Nusantara, penghargaan terhadap Yang Maha Kuasa secara sakral ketika itu. Poin penting yang dipetik adalah: semua cara "perayaan iman" berkaitan dengan religiusitas secara vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa hendaknya dihargai dan dihormati.
Berjalan Menuju Candi Pendem
3. CANDI PENDEM
Sumber Foto: Pak Narwan
Sekitar 200 meter tak jauh dari Candi Asu, terdapat Candi Pendem. Menyusuri sawah dan ladang, Candi Pendem ini ternyata berletak di tengah ladang warga sekitar. Lokasi yangs sangat unik, yaitu nampak berada di bawah tanah seolah-olah terbenam di tanah yang datar, yang kemudian dinamakan Candi Pendem oleh masyarakat sekitar. Kemungkinan juga, daerah ini dahulu dilalui oleh sungai purba.
Candi Pendem ini juga memiliki kemiripan dengan 2 candi sebelumnya, Candi Lumbung dan Candi Asu. Dalam tubuh candi terdapat lubang semacam sumur sedalam hampir 2 meter dengan ukuran kotak kurang lebih 1,3 x 1,3 meter. Menurut arkeolog Soekmono yang dikutip dari buku Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, sumur tersebut digunakan sebagai tempat pemujaan. Pemujaan tersebut bisa ditujukan kepada seorang tokoh tertentu atau arwah seorang raja. Ketiga candi ini didirikan tahun 869 masehi. 
Dari Kiri ke Kanan: Candi Lumbung, Candi Asu dan Candi Pendem
Keadaan Candi Pendem ketika ditemukan sudah tidak utuh lagi. Hanya bagian kaki dan tubuh bagian bawah, sementara bagian atap sudah hilang, jadi sudah tidak bisa direstorasi lagi. Terdapat beberapa keunikan pada Candi Pendemyaitu adanya motif hias sulur gelung yang keluar dari jambangandan di tengah ikal sulur terdapat burung bangau yang membuka kedua sayapnya, relief Ghana, dan adanya lubang-lubang pada batu bagian batursudut barat dayayang menyerupai batu dakon.
Ghana pada Candi Pendem
4. CANDI LOSARI
Setelah bertolak dari Candi Pendem, mengarah ke selatan kurang lebih 15 Km, tibalah kami di Candi Losari pada pukul 12.30 WIB. Candi Losari berletak di Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi Losari berada di tengah kebun salak milik pak Badri seorang guru SMP N 12 Kota Magelang, yang pada 11 Mei 2004 menggali parit kemudian menemukan batuan candi secara tidak sengaja, yang diperkirakan pada tahun 925 - 928 Masehi tertimbun oleh kandungan material gunung Merapi berupa endapan lahar, fluviatil maupun alluvial. Setelah penemuan ini mengemuka, lalu oleh pihak yang terkait melalui Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala jawa Tengah dan balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penindaklanjutan dengan penyusunan kembali dengan ekskavasi arkeologis dan rekonstruksi.
Latarbelakang Candi Losari ini beragama Hindu, karena ditemukan arca-arca Hindu yang antara lain: arca Mahakala dan dewa Lokapala dalam mitologi Hindu. Candi Losari ini dikelilingi perwara (candi pengapit / candi pelengkap), Candi Induk berada sekitar 8 meter dari candi perwara. Perkiraan luas Candi Losari 25 x 25 meter, sedangkan candi induknya 9 x 9 meter. Karena keadaan areal candi yang basah, bahkan terendam air, maka batasan penulis hanya investigasi yang kelihatan saja (per 22 Juni 2014). Ada satu yang unik dari Candi Losari ini, yaitu terdapat relief gajah (saat itu terlihat belalainya saja).
#NB:
Investigasi Pak Narwan Sastra Kelana kepada Mbak Halimah (penjaga Candi Losari):
Menindaklanjuti penemuan (2004) itu, dilakukan penggalian pada tahun 2007 dan ditemukan sebuah candi utuh. Kemudian tahun 2008 ditemukan dua buah candi dan sebuah candi induk yang tidak utuh lagi.
Kemudian tahun 2010 dilakukan penggalian pada candi induk. Dilanjutkan tahun 2011 untuk mencari bagian lain dari candi induk. Proyek terakhir tahun 2013 adalah pembuatan akses jalan masuk ke kompleks candi. “Jadi saat ini situs Candi Losari berupa satu candi induk dan tiga candi anakan atau candi perwara" ujar Mbak Halimah.
Sumber Foto: Pak Narwan
Pada 2013 dibuatlah akses jalan masuk ke kompleks candi, serta dibuatlah atap yang membentang 25 x 25 meter agar ekskavasi dan rekonstruksi candi berjalan lancar terbebas dari guyuran hujan, karena candi ini terkubur di dalam tanah, atau (sekarang) di bawah permukaan tanah. Namun sayang sekali, dijelaskan oleh mbak Halimah bahwa air tanah ternyata lebih deras menyembul daripada jatuhnya air hujan. Ini yang mengakibatkan akan lebih lama lagi dalam merekonstruksi Candi Losari. Ada beberapa ide tambahan, bahwa akan dibangun lagi saluran pembuangan air, namun baru sebatas wacana.
Lanjut Perjalanan Ke Candi Gunung Wukir
5. CANDI GUNUNG WUKIR
Setelah puas mengagumi kemegahan Candi Losari, kami melanjutkan perjalanan menuju candi berikutnya pada pukul 13.15 WIB, yaitu Candi Gunung Wukir. Ini merupakan lokasi candi favorit saya dan teman-teman karena daerah jelajah yang sangat epic dan menawan. Candi Gunung Wukir merupakan candi berlatar belakang agama Hindu, yang berletak di lereng Barat gunung Merapi. Tepatnya berada pada Dusun Canggal, Desa Kadiwulih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, lokasi Candi Gunung Wukir berada di sebelah timur laut kota Muntilan. Candi ini berada di atas bukit Wukir, dan oleh masyarakat disebut Gunung Wukir. Oh iya, satu keunikan dari Candi Gunung Wukir ini dengan cara: melepas alas kaki jika ingin menapak pada candi tersebut. Ini bertujuan menghormati tradisi warisan turun-temurun, dan bertujuan agar situs tidak rusak.

Melepas Lelah
Sampai di Gunung Wukir
Seperti yang sudah saya paparkan di atas, perjalanan ke situs Candi Gunung Wukir ini yang paling menarik. Untuk mencapai ke candi, pengunjung harus berjalan kaki mendaki bukit Wukir. Sebelum naik ke bukit, hendaknya pemakai kendaraan bermotor bisa menitipkan ke halaman rumah warga, kemudian menemui juru kunci Candi Gunung Wukir, Pak Widodo. Pemandangan elok, rimbunan bambu dan pohon kopi liar dibiarkan tumbuh menghiasi jalanan menuju puncak Gunung Wukir.

Di Gunung Wukir ditemukan prasasti Canggal pada 1879 (catatan). Prasasti Canggal ini berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti ini terbagi menjadi 2 bagian, bagian pertama ditemukan di halaman candi, dan satu bagian lainnya berada di lereng bukit dekat dengan sungai. Isi prasasti tersebut menceritakan Raja Sanjaya yang gagah perkasa mengalahkan musuhnya. Kemudian diceritakan bahwa kemenangan atas musuhnya tersebut diabadikan dengan membangun sebuah lingga dan yoni. Namun sayang sekali, lingga telah hilang entah kemana. Sedangkan, Prasasti Canggal sekarang diamankan dan berada di Museum Nasional, Jakarta.
Candi Utama
Perwara Berisi Nandi
Perwara Berisi Yoni
Perwara
Selain itu, di Candi Gunung Wukir terdapat yoni dan arca nandi. Terdapat pula 3 perwara sebagai pengapit candi utama yang di atasnya terdapat Yoni tanpa Lingga. Komplek Candi Gunung Wukir termasuk cukup luas, yaitu berukuran 50 x 50 meter terbuat dari jenis batu andesit. Menurut perkiraan, candi ini merupakan cani tertua yang dibangun pada masa raja Sanjaya dari kerajaan Mataram Kuno, yaitu 732 M atau 654 tahun Saka. Ada beberapa info tambahan, bahwa isi Prasasti Canggal tersebut ada kaitan dengan Kerajaan Medang atau Mataram Hindu. Dan berdasarkan prasasti itu, Candi Gunung Wukir kemungkinan memiliki nama asli Shiwalingga atau Kunjarakunja.
Lumpang
Ketika turun dari Gunung Wukir, di jalan kami berkesempatan untuk "sowan kulanuwun" yang diwakili oleh Pakdhe Mbilung berkunjung ke makam leluhur Gunung Wukir.
Sumber Foto: Pak Narwan
6. CANDI NGAWEN
Pukul 14.44 WIB kami tepat mencapai destinasi akhir dari jelajah Situs kali ini, yaitu di Candi Ngawen. Candi Ngawen berada tidak jauh dari Candi Mendut. Candi Ngawen berletak di desa Gunungpring Ngawen, kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Menurut catatan, candi ini merupakan bangunan suci untuk peribadatan yang tertulis pada prasasti Karang Tengah, tahun 824 Masehi, bertuliskan Venuvana (bahasa Sansekerta yang berarti: Hutan Bambu).
Tulisan saya yang pernah memuat Candi Ngawen:

Dalam catatan Belanda, pemugaran pertama kali Candi Ngawen pada tahun 1911. Menurut catatan pula, Candi Ngawen ini dibangun pada abad 8 pada dinasti Syailendra (Budha) dan disnasti Rakaipikatan (Hindu). Candi Ngawen termasuk candi Budha meskipun bangunan meruncing vertikal yang cenderung menyerupai candi Hindu. Candi Ngawen juga dibangun pada masa dinasti yang berbeda, karena keunikan ini, maka dijuluki candi peralihan. 

Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, 2 diantaranya memiliki bentuk yang berbeda dengan dihiasi arca singa di keempat sudutnya. Sebuah patung Budha tanpa kepala dengan posisi duduk Ratnasambawa ada di dalam candi yang konstruksinya "paling" lengkap. Namun sangat disayangkan, karena menjaga dari ulah "si tangan jahil pengunjung", maka kali ini (per 22 Juni 2014) patung Budha pada candi ini dulindungi dengan terali besi.

Terdapat pula kala dan makara yang utuh, dan yang saya anggap paling prestisius bagi saya adalah relief Kinara - Kinari.... you know me so well lah mengapa saya kagum dengan Kinara - Kinari.... :D 
Mengapa relief Kinara - Kinari saya sukai:
Kinara - Kinari merupakan makhluk kahyangan yang berwujud setengah manusia setengah burung. Dalam kehidupan di kahyangan, mereka bertugas selain sebagai penjaga kalpataru juga sebagai seniman-seniman kahyangan yang memberikan pertunjukan-pertunjukan kesenian di istana kahyangan.
 
oh iya, ada yang menjadi pertanyaan saya yang belum terjawab sampai sekarang berlatarbelakang relief Candi Ngawen. Dalam relief Candi Ngawen terdapat relief Gajah. Nah pertanyaan saya: Apakah di Jawa dulu ada spesies gajah Jawa ???
Hanya sedikit jawaban:
- Gajah adalah hewan suci mitologi Hindu - Budha.
- Si pembuat arca adalah berasal dari India.
- Para pelancong dan pedagang ke Nusantara membawa gajah dengan kapal (dengan alasan membangun candi dengan bantuan hewan yang kuat pula).

Well, acara kami selesai pada 15.30 dan para peserta saling memberikan respon terhadap acara ini. Satu kata: Amazing !!!

INTERMEZO
Semua hal yang berkaitan dengan Candi, pasti berhubungan dengan ibadah dengan Yang Maha Kuasa. Kita seharusnya juga paham tata krama dan etika jika berkunjung ke Candi. Semua cara "perayaan iman" berkaitan dengan religiusitas secara vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa hendaknya dihargai dan dihormati. Istilah canda "aturan dibentuk untuk dilanggar" itu salah kaprah dalam melestarikan Benda Cagar Budaya. Pelestarian ini sebagai pembelajaran dan edukasi melestarikan sejarah, belajar sejarah untuk tolok ukur Nusantara masa mendatang.
Vandalisme Ukiran di Candi Asu
Cagar Budaya Dilindungi Undang-undang

Terimakasih Pinjaman Gambar dan Infonya Kepada:

Om Begawan Prabu
Pak Narwan Sastra Kelana
Pak Widoyoko
Retno Wijayanti
Ake Ru

Thursday, 12 June 2014

Seboeah Rekam Djedjak, Buku Pertama Saya

Karena ada kesamaan ide maaf sebelumnya kepada pembaca setia, karena postingan ini saya copy paste :)

"Magelang, dengan sejuta keindahannya menciptakan sejarah yang luar biasa panjangnya. Sejarah yang telah terungkap dimulai dari perannya sebagai bagian penting dari Kerajaan Mataram Kuno. Situs-situs dan artefak hingga kini terus ditemukan. Sementara itu, pada awal abad 19 dalam kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, kota Magelang yang dikonsep sebagai kota peristirahatan memperlihatkan geliat yang sangat pesat. Tata kota, infrastruktur, dan jalur transportasi dibangun dengan sangat memadai. Hingga kini peninggalan-peningga­lan tersebut meninggalkan sejarah yang akan terus dikenang.

Komunitas Kota Toea Magelang (KTM) hadir dalam rangka mengajak masyarakat untuk mencintai kotanya sendiri. Melalui berbagai even dan sarasehan yang mendulang sukses, kiprah KTM jelas tidak bisa dipandang sebelah mata dalam mengawal perkembangan kota dari segi sejarah, budaya, dan aspek sosial lainnya. Buku ini berisi rangkuman sebagian kegiatan yang pernah diselenggarakan oleh KTM diantaranya Sejarah Bioskop Magelang, Jelajah Kereta Api, Jelajah Situs-candi, dan even even menarik lainnya yang sangat sayang untuk dilewatkan. "

Akhirnya cita-cita saya untuk menyusun buku sendiri kesampaian juga. Saya langsung cocok dan pas bergabung bersama Komunitas Kota Toea Magelang. Berawal dari akhir tahun 2011, waktu itu KTM juga belum terlalu lama terbentuk. Event-event yang digelar masihlah sedikit. Waktu demi waktu, tidak terasa sekarang sudah tahun 2014 dan berbagai event, sebagian besarnya sempat saya ikuti.

Berbagai kegiatan seperti jelajah, sarasehan, workshop menjadi inspirasi saya untuk menulis. Bukan hanya menulis tentang kegiatan, namun ilmu-ilmu yang saya peroleh selama kegiatan itu sedikit banyak saya kupas dengan bahasa yang menyenangkan.

14 event terangkum dalam satu buku include dua episode menarik dari saya (Ryan Adhyatma). Mempelajari sejarah kini menjadi makin menarik. Dengan mendatangi situasi lapangan, bersama kawan-kawan yang penuh semangat menjadikan rangkuman event ini sangat sayang untuk dilewatkan.
Launching buku pertama kali oleh Gubernur Kota Toea Magelang (KTM)
saat acara Djeladjah Thomas Karsten (Mei 2014)
Di sela-sela gelaran Magelang Tempo Doeloe Mei lalu, buku saya ikut dilaunching secara resmi dalam acara bertajuk Remboeg Sedjarah. Mas Danu Sang Bintang bersama mas Ginanjar Teguh Iman juga berkesempatan hadir bersama kami dalam rangka re-launching bukunya Membaca Magelang jilid 2.
Pak Narwan, Hamid dan saya dalam Remboeg Sedjarah
Event Magelang Tempo Doeloe 2014
Adapun buku saya dicetak terbatas dan 90 % terjual ke pasaran. Masih ada beberapa buku tersisa per hari ini (11 Juni 2014) dan bisa anda dapatkan secara kirim paket maupun COD.

Berikut spesifikasi bukunya :
Kota Toea Magelang, Seboeah Rekam Djedjak # Hamid Anwar, Ryan Adhyatma # 240 Halaman # Cover by : Ryan Adhyatman # dicetak di Pixel Yogyakarta # Harga 50 K IDR

Testimoni :
"Hamid Anwar menceritakan segala apa yang dia dengar. Meskipun terkesan membaca catatan perjalanan, namun tetap banyak sisi sejarah yang bisa dipelajari dari buku ini. Sementara itu, Ryan Adhyatma memiliki kelebihan dalam hal mengorek informasi sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih valid" (Darmawan Si "Kadus" Kabayan)

"Buku ini memberi saya bermacan informasi yang sebelumnya tidak pernah saya duga. Saya malah baru tau dari buku ini bahwa Gedung Bunder di Jl Sriwijaya itu sangat mempesona. Hahaha.. " (Iyan Ardiyan)






Wednesday, 9 April 2014

Gambar 3Dimensi: Tamasya, Juga Bergaya

Menjelang liburan, kadang kita dibingungkan dengan segepok rencana, bahkan tidak ada rencana sama sekali. Ide dan keputusan acap kali datang secara mendadak dan tiba-tiba terlintas. Tentu saja liburan digunakan buat bertamasya bagi kamu-kamu kawula muda yang enerjik. Ngomong-ngomong soal liburan, apa sih pentingnya liburan...??? Tentu saja poling terbesar adalah refreshing otak. Memang inti dari liburan adalah mengurangi penat. Jadi, maksimalkan dirimu saat-saat bertamasya ketika liburan.

VIS BATIK SAMPAI TEMBOK CINA
tambahan biaye endorse tas makcik: www.visbatik.com
Liburan gayaku ataupun gayamu terserah, karena berlibur itu obat yang bikin otak kita jadi lebih fresh. Ada 3 hal yang patut diketahui cara berlibur di otakmu. Berlibur itu: fun, fun dan fun.
Liburan fun ini ada korelasinya dengan memaksimalkan gaya ketika bertamasya. Korelasinya adalah berupa kata sifat yaitu: Comfortable (kenyamanan). Kenyamanan dalam bergaya akan mendukung fun tidaknya kita dalam bertamasya. Kenyamanan ini banyak makna, bisa dalam berpakaian maupun kesiapan tamasya. Nah ada satu pandangan tentang fashion pakaian ketika liburan, dimana fashion yang baik dan nyaman itu tidak pernah kebetulan.
Aku dan Si Kliwon Piaraanku
Okey, destinasi tamasya ketika liburan bisa direncanakan maupun random. Nih daku kasih tau satu destinasi tamasya modern. Seperti judul tulisanku, tamasya yang fun juga bisa melakukan gaya. Bagi yang suka kesenian nih, terutama seni grafis, coba ke Museum 3D berada De Mata Trick Eye Museum, yang letaknya di basement Gedung Umar Kayam, XT Square yang merupakan arena kerajinan dan kuliner yang beralamatkan di Jl Veteran, Pandean, Umbulharjo. Sedikit memberikan gambaran, Museum 3D ini adalah museum lukisan, namun beda daripada lukisan pada umumnya. Lukisan ini dengan sudut tertentu akan menimbulkan efek nyata pada obyeknya. Banyak gambar lukisan yang bisa diekplore di sana. Tiket masuk cukup bersahabat, jam 09.00 - 15.00 tiket bisa dibeli dengan harga Rp 25.000,- dan lebih dari jam 15.00 tiket bisa dibeli dengan harga Rp 35.000,-

GAMBAR 3 DIMENSI
Seperti biasa, spesial di tulisanku tidak cuek bebek hanya tamasya saja, namun ada sisi edukasinya.... hehe.... Cekidot deh soal pengetahuan 3D atau 3 Dimensi:
Berbeda dengan gambar 2 dimensi yang hanya memiliki panjang dan lebar saja, gambar 3 dimensi atau biasa disingkat 3D atau disebut ruang, adalah bentuk dari benda yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi. Istilah ini biasanya digunakan dalam bidang seni, animasi, komputer dan matematika.

Gambar 3D atau 3 Dimensi era modern ini perjalanannya sangat panjang dan cukup rumit. 3D ini berkaitan dengan proses holografi. Holografi adalah teknik yang memungkinkan cahaya dari suatu benda yang tersebar direkam dan kemudian direkonstruksi sehingga objek seolah-olah berada pada posisi yang relatif sama dengan media rekaman yang direkam (dilihat oleh mata). Gambar berubah sesuai dengan posisi dan orientasi dari perubahan sistem pandangan dalam cara yang sama seperti saat objek itu masih ada, sehingga gambar yang direkam (tergambarkan oleh mata) akan muncul secara 3D yang biasa disebut dengan hologram.

Sejarah Holografi
Dialah Dr. Dennis Gabor, seorang fisikawan Hongaria, menemukan teknik holografi sekitar tahun 1940an. Berkat penemuannya tersebut, ia dianugerahi penghargaan Nobel pada tahun 1971. Hasil temuaannya menjadikan ia sebagai perintis, bapak, dan sekaligus pencipta holografi. Sayangnya, perkembangan bidang ini berjalan lambat hingga tahun 1960an. Akhirnya, perkembangan holografi mulai bergerak lagi dengan adanya perkembangan teknologi laser.

Terimakasih atas Tambahan Biaye Tas Makcik Kepada:
THE LUXURIOUS INDONESIAN ETHNIC FASHION

Twitter: @VISBATIK
Phone: +62 812 263 64618

Tuesday, 8 April 2014

ASEM LANDA : Buah Asem Yang Rasanya Manis

Halo para generasi membaca, kali ini saya menuliskan tentang flora nih. Ingat gak era #70an, #80an dan #90an terkenal majalah Trubus? Kadang sering menjadi candaan anak-anak di era tersebut dengan menyebutkan: "kamu adalah artis, artis majalah Trubus." Hahahaha.... begitu kocak ketika sedikit mengingat ejekan dan candaan seperti itu selain ejekan memanggil teman dengan nama orang tua.... haha :D

Source
Oh iya, Trubus adalah nama majalah tanaman yang berasal dari Indonesia yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1969 dan diterbitkan oleh PT Trubus Swadaya. Majalah ini diterbitkan dalam Bahasa Indonesia. Kali ini tulisan saya akan sedikit berbeda, dengan menuliskan flora pohon Asem Landa atau bahasa ilmiahnya Pithecellobium Dulce. Tidak menuliskan detail seperti majalah trubus sih, hanya saja tulisan ini mewakili pengalaman yang pernah terjadi.

Unik sekali kalau berceritera kembali soal pengalaman masa lampau yang pernah dialami dengan memanjat pohon asem landa ini. Tak sedikit yang dimarahi orang tuanya ketika memanjat pohon ini. Sekarang baru sadar, sebenarnya bukannya tidak boleh, tapi karena tingginya pohon yang dipanjat. Ada pula pengalaman lain, saking banyaknya mengambil buah asem dengan tongkat yang panjang, anak-anak saling berebut asem landa (permen jawa) sampai jatuh berguling-guling. Ada pula asem yang dijadikan bahan candaan yang dilagukan: "asem kecut gulo legi, prawan ngentut aku wedi" yang artinya (asem masam gula manis, perawan kentut aku takut).... haha.... sungguh pengalaman unik yang tak terlupakan.

ASEM LANDA
Orang menyebutnya asem landa (baca: londo) - (Belanda). Entah mengapa dinamakan asem landa, mungkin buah ini berbeda dengan kawannya asem jawa yang wujudnya cokelat dan rasanya masam. Mungkin menjadi satu alasan mengapa buah yang kulitnya hijau, buahnya berwarna putih dan rasanya manis ini dinamakan asem landa.

Pohon dengan nama ilmiah Pithecellobium Dulce ini merupakan jenis pohon besar. Pohon besar ini bagus digunakan sebagai pelengkap sistem tata kota. Selain sebagai peneduh, pohon asli Meksiko ini memiliki akar yang kuat menghujam ke bawah bersifat vertikal (tidak menyebar) menjadikan tanah/jalan tidak rusak. Pertanyaannya sekarang: kenapa pohon asem ini bisa sampai Indonesia...???
Sedikit ilustrasi jawabannya sih seperti ini: Kebiasaan orang bule Belanda jaman dulu itu koleksi benih, biji, dan lain-lain untuk diperjualbelikan/ditukar... 
Mungkin pohon peneduh yang efektif efisien saat itu memang pohon asem selain beringin... mengingat tidak merusak jalanan utama juga, karena akar pohon asem ini sifatnya vertikal. Di kota Magelang, pohon ini sudah jarang dan paling mudah masih bisa dijumpai di Jl. Yos Sudarso, barat gereja Katolik St. Ignatius Magelang.

Sebutan Lain Asem Landa (Pithecellobium Dulce):
- Asem Londo, 
- Asem Cina, 
- Asem Kranji, 
- Asem Buto,
- Baobab.

Thursday, 6 March 2014

ALUN-ALUN SEMARANG SUDAH LAMA MENGHILANG



Jika mengunjungi sebuah kota, maka "patokan" kota adalah Masjid Agung ataupun alun-alun (Aloon-aloon) kota. Terlebih jika kita ke kota Semarang, pasti kita langsung menuju Simpang Lima sebagai patokan pusat kota. Orang awam tidak salah menyebutkan Simpang Lima itu sebagai alun-alun kota Semarang. Ketidaktahuan masyarakat yang sudah terlalu lama ini yang sekarang harus diluruskan. Perlu diketahui, bahwa Simpang Lima Semarang bukanlah alun-alun.
Saya terhenyak ketika mencari alun-alun kota Semarang yang sebenarnya. Sebelumnya, saya dengan media search engine sekelas Google saja sudah jelas ada kesalahan informasi. Yang terjadi ketika kita search kata: "alun-alun Semarang" kemudian yang muncul adalah gambar Simpang Lima Semarang. Ini sangat miris ketika search engine terbesar di dunia bisa terjadi kesalahan. Bahkan orang Semarang pun bisa terkecoh dan tidak tau kawasan alun-alun Semarang yang sebenarnya sesuai historis dan fakta. Oke, kita telaah bersama-sama tentang alun-alun....

ALUN-ALUN KOTA
Alun-alun sudah mengalami evolusi yang sangat panjang di Indonesia. Pada budaya masyarakat yang meliputi tata nilai, pemerintahan, kepercayaan, perekonomian dan lain-lain inilah yang mengubah wajah alun-alun. Beratus-ratus tahun yang lalu, salah satu pelopor kawasan alun-alun adalah kerajaan Hindu Majapahit. 
Disebutkan dalam buku Negara Kertagama, Trowulan sudah mengenal Alun-alun sebagai kegiatan religiusitas. Di kala itu, kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, maka haruslah dibuat upacara minta izin kepada “dewi tanah”. Yaitu dengan jalan membuat sebuah lapangan “tanah sakral” yang berbentuk “persegi empat” yang selanjutnya dikenal sebagai alun-alun.

Fungsi lain  alun-alun di kala itu:
- Fungsi administratif: masyarakat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat.

- Fungsi sosial budaya dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain. Mengingat alun-alun biasanya hamparan lapangan luas berumput, interaksi sosial bisa di bidang perdagangan kecil, hiburan ataupun olahraga.

Evolusi Alun-alun
Masuknya Islam di Indonesia juga mempengaruhi bentuk dan fungsi alun-alun kota. Tata kota Jawa pada umumnya mempunyai bentuk dasar yang hampir sama, yaitu selalu dibentuk dengan adanya alun-­alun dengan dikelilingi pusat pemerintahan dan masjid besar. Pada masjid besar tersebut, biasanva selalu dikelilingi rumah-rumah tinggal yang kemudian disebut dengan nama kampung Kauman yang notabene adalah tempat tinggal para kaum/orang yang "dituakan" dalam segi spiritual.
SOURCE
Konsep alun-alun menurut Islam adalah sebagai ruang terbuka perluasan halaman masjid untuk menampung luapan jamaah biasanya ketika hari besar agama Islam. Siar Islam telah membawa perubahan dalam perancangan pusat kota, sehingga alun-alun dan Masjid berada dalam satu kawasan yang di dekatnya juga terdapat jalur transportasi.

Di era kekuasaan kolonial Belanda, wajah alun-alun kota juga mulai terjadi perubahan. Hal ini terlihat dengan didirikannya bangunan penjara pada sisi lain alun-alun. Pendirikan bangunan-bangunan untuk kepentingan Belanda sekaligus mengurangi fungsi simbolis alun-alun, kewibawaan penguasa setempat (mbah kaum = kasta tinggi pribumi).

Di jaman sekarang, banyak alun-alun di Indonesia yang semakin berubah dari fungsi aslinya. Faktor pendorong perubahan fungsi tersebut diantaranya: kebijakan pemerintah, aktivitas masyarakat, perdagangan dan keserakahan.

ALUN-ALUN SEMARANG
Alun-alun tak pernah lepas dari Masjid Agung, dalam tulisan ini terkhusus pada Masjid Agung Semarang. Nihm satu fakta tercatat bahwa alun-alun semarang bukan berada di Simpang Lima Semarang, namun berada di Jl. Alun-alun Barat Nomor 71 Semarang. Di situ berdirilah Masjid Besar Kauman Semarang yang menjadi cikal bakal alun-alun kota Semarang. Masjid ini dibangun pada tahun 1170 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1749 Masehi.
SOURCE
Namun sekitar tahun 1938 alun alun tersebut beralih fungsi menjadi kawasan komersil yaitu dengan adanya Pasar Johar. Kesalahan itu tidak berhenti di situ saja, sekitar tahun 1970an Bangunan Kanjengan (pemerintahan) di sisi Selatan alun-alun telah dirobohkan dan dibangun pertokoan. Kawasan alun-alun yang lain didekat pasar Johar berdiri pasar Yaik Permai. Sedangkan di alun-alun Utara (bekas terminal angkot) berdiri gedung BPD dan Hotel Metro, yang kemudian menjadi area Kawasan Perdagangan Johar. Masjid Besar Kauman Semarang kini terjepit di antara bangunan bangunan tinggi yang mengepungnya. Tata kota tradisional di Semarang kacau balau saat itu.

Hilangnya Alun-alun Semarang
Masjid Besar Semarang terkena rob
SOURCE
Sangat naif ketika hanya menyalahkan kejadian masa lalu atas hilangnya alun-alun Semarang. Pelajaran penting ini menjadi cambuk agar di kota lain tidak terjadi hilangnya tata kota tradisional alun-alun kota. Seperti yang sudah saya tuliskan: kebijakan pemerintah, aktivitas masyarakat, perdagangan dan keserakahan ini menjadi momok mengapa tradisi yang sudah ada menjadi hilang secara mudah.

SOURCE
Khususnya di Semarang, pasar yang berdiri di Alun-alun adalah bukti potensi ekonomi strategis kawasan ini sangat kuat, walaupun pasar Johar penuh dengan permasalahan. Mulai dari banjir, rob, banyaknya PKL, kemacetan lalu lintas dan yang terakhir dianggap oleh investor sebagai bangunan yang sudah tidak layak dan akan diganti dengan pusat perbelanjaan.

POIN PENTING
Nah, sekarang kita sudah mengetahui sedikit sejarah tentang alun-alun dan terkhusus alun-alun di Semarang yang sudah hilang karena alih fungsi. Jangan salahkan orang ketika menjawab Simpang Lima Semarang sebagai alun-alun kota Semarang. Kita sebagai penulis dan pembaca harus mampu menyanggah atas data dan fakta yang ada, bahwa terjadi kurangnya informasi yang berkembang di masyarakat.
Dengan kisah dan fakta tersebut, kesalahan dalam pembangunan tata kota tradisional seharusnya tidak akan terulang lagi di kota lain.

Tuesday, 4 March 2014

MUSISI TIM KNOL: IKATAN BELANDA & MAGELANG

Orang keturunan Belanda biasanya memiliki ikatan batin dengan Indonesia. Mungkin nenek moyang mereka bercerita tentang asyiknya di negara Hindia (Hindis - Indische - Indonesia). Indahnya Indonesia di kala itu menarik perhatian negara lain, terlebih Belanda. Kebanyakan foto lawas di berbagai sumber mengatakan bahwa Indonesia itu negeri yang permai, sejuk, dan cita-cita tempat tinggal yang ideal.
Saya tidak akan bercerita tentang romansa penjajahan kolonial Belanda. Namun sedikit berkisah bahwa hubungan bilateral Belanda dan Indonesia ini sudah ada lama sekali. hubungan bilateral hanya melibatkan dua negara , karena "bi" artinya adalah dua jadi maka nya bilateral hanya melibat kan dua negara . Hubungan bilateral adalah suatu hubungan politik, budaya dan ekonomi di antara 2 Negara.

SEJARAH BILATERAL BELANDA - INDONESIA 
SOURCE
 Pada 1603, Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC mulai beroperasi di Indonesia di mana ia terlibat dalam pertempuran untuk memperluas wilayahnya. Setelah kebangkrutan Perusahaan pada tahun 1800, negara Belanda menguasai kepulauan ini pada tahun 1826. Setelah ini negara Belanda juga berperang melawan dia pribumi dan kemudian ditegakkan periode kerja paksa dan perbudakan sampai tahun 1870 ketika, pada tahun 1901, mereka mengadopsi "Kebijakan Etis Belanda dan Kebangkitan Nasional," yang termasuk investasi yang agak meningkat dalam pendidikan adat dan reformasi politik yang sederhana. Hanya dalam abad ke-20, bagaimanapun, adalah pemerintahan Belanda ditingkatkan untuk apa yang akan menjadi Indonesia. Setelah penjajahan Jepang selama Perang Dunia II, Belanda mencoba untuk membangun kembali kekuasaan mereka, di tengah perjuangan bersenjata dan diplomatik pahit yang berakhir pada Desember 1949. Tekanan internasional kemudian memaksa Belanda untuk memerdekaan Indonesia yang diakui secara resmi.
Ya, itu sekelumit kisah bilateral Belanda dengan Indonesia di masa lampau. Mari lupakan masa lalu, kemudian rasakan masa kini.

Hubungan bilateral kali ini saya khususkan pada bidang kebudayaan Belanda (Amsterdam) kepada Magelang. Ini merupakan rangkaian acara kedutaan Indonesia di Belanda, berkolaborasi dengan Kedutaan Belanda di Indonesia. Rangkaian acara tersebut diantaranya terselenggara di Medan, Jakarta, Yogyakarta dan berakhir di Magelang pada 19 April 2012. Memang sudah lama, namun kegiatan ini sangat jarang terjadi, terlebih di kota kecil seperti Magelang. :)
Siapakah duta Belanda yang akan tampil di Magelang ??? Dialah Tim Knol.
Di Eropa nama Tim Knol sudah tak asing lagi. Walaupun masih muda (22 tahun / 2012 silam), lagu-lagunya banyak yang menjadi hits dengan aliran jenis musik Britpop-nya. Tim Knol membawa awak bandnya Matthijs van Duijvenbode (keyboard), Jeroen Overman (bas), Kees Shaper (drum), dan Anne Soldier (gitar). Dan kali tersebut, pada 19 April 2012 mereka beraksi di Prambanan Convention Hall, Hotel Puri Asri, Magelang.
Di tahun 2012, Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, membawa mereka kembali untuk konser yang jauh lebih besar. Dalam rangkaian perjalanannya yang unik adalah di Jakarta 14 - 15 April 2012. Ini dikarenakan mereka berkolaborasi dengan musisi legendaris Indonesia: Koes Plus. Tak ada kegugupan antara mereka yang terpaut usia sangat jauh seperti kakek dan cucunya. Mereka dianggap kolaborasi yang unik, sebab mereka memiliki influence musik yang sama, band asal Inggris yaitu The Beatles.

Tim Knol and Band juga memiliki agenda meluncurkan album Days (2012) sebagai kelanjutan dari album perdana yang meluncur 2010. Di album Days, salah satu lagu yang menjadi hits di internasional yakni Do You Leave The Light On. Musisi yang berbasis di Amsterdam ini sempat tampil di Jakarta lahun lalu, dan mereka berhasil mendapatkan basis penggemar lokal di Indonesia. Kemudian di 2013 Tim Knoll juga membuat album yang bertitel Soldier On

TIM KNOL
Tim Knol lahir tahun 1989 dan dibesarkan di Hoorn sekitar 35 kilometer utara Amsterdam, Belanda. Ia mulai memainkan musik pada usia 10 tahun. Di sana, ia membuat band pertamanya: Be Right Back, dan Tim berposisi sebagai vokalis + bermain gitar . Selain itu, Tim memiliki proyek sendiri dengan mencatat beberapa lagu solo. Pada bulan Mei 2008 ia bermain di De avond van het kippenvel di Utrecht, diundang oleh Anne Soldaat , mantan personil band Daryll Ann. Bersama-sama mereka merekam beberapa demo oleh label lokal: Excelsior Recording . Pada bulan Mei 2009 ia memutuskan untuk keluar dari band, dan memulai karir solo secara profesional. Pada bulan Juni 2009 hasil pertama dari solo karir, album Godley & Creme Cry, muncul di album kompilasi Guilty Pleasures.
 
Setelah Lowland Festival (3 hari Festival kesenian terbesar di Belanda) pada bulan Agustus 2009, Tim menandatangani kontrak rekaman dengan label Rekaman Excelsior. Record Debutnya menerima pandangan positif di media Belanda. Di album Knol dibantu oleh Jacob de Greeuw, Jeroen Kleijn dan Matthijs van Duijvenbode dari Johan (band asal Belanda), Anne Soldaat dan Reyer Zwart (dari band Do The Undo). Tim Knol pertama kali menyajikan lagu-lagunya sebagai tindakan dukungan untuk Johan band, selama tur perpisahan mereka di paruh kedua tahun 2009. Setelah beberapa mencoba konser (tour kecil), Knol dengan band barunya mencoba ajang yang lebih besar di Festival Noorderslag di Groningen Januari 2010.

Sampai saat ini Tim Knol memilik 3 album:
- Tim Knol (2010)
- Days (2011)
- Soldier On (2013)

TIM KNOL KONSER DI MAGELANG
Tak banyak orang tahu tentang musisi yang satu ini, terkhusus di Magelang. Jujur, awalnya saya juga tidak mengetahui siapakah sosok Tim Knol sebelumnya. Pengumuman bahwa Tim Knol akan mengadakan konser di Magelang saya ketahui melalui media sosial Facebook. Saya pikir, ini sangat langka, mengingat Magelang hanyalah kota kecil, namun orang dari mancanegara yaitu Belanda mau mengadakan konser. Sebelum menhadiri, saya harus tau siapakah Tim Knol. Amazing !!! Tim Knoll and Band adalah musisi yang hebat di era ini dan begitu populer di Eropa. Kemudian saya berpikir bahwa saya harus sempatkan waktu untuk menontonnya pada Kamis 19 April 2012 di Prambanan Convention Hall, Hotel Puri Asri, Magelang. Satu kesempatan istimewa, bahwa tiket konser adalah gratis dan bisa diambil langsung di stasiun radio Polaris FM Magelang.

SOURCE
Hari sebelum pentas konser digelar, Tim Knol dan kawan-kawan mengunjungi dan interview sejenak di radio lokal Magelang: Polaris FM. Dalam wawancaranya, mereka sesekali ingin menunjukkan kecintaannya pada Indonesia dengan sedikit berbicara bahasa Indonesia. Namun justru menjadi tawa karena tidak fasihnya mereka. Kata-kata ini terkadang muncul di sela canda ketika interview dengan mereka: “Selamat Siang”, “Paling Jempol”, “Kasian Deh Lu”, “Ayo Joget”.

Pak Walikota Pidato
Tanpa molornya waktu, Kamis 19 April 2012 pukul 19.30 konser dimulai. Acara dimulai dengan sambutan Walikota Magelang, dan setelah lagu pertama rombongan dari pemkot termasuk pak Walikota meninggalkan acara ini.... hey kalian melewatkan gitu aja, ini konser keren lho !!! ...piss... v(^_^!)v
Tim Knol dan kawan-kawan langsung menggebrak dengan lagu yang cukup memiliki beat yang agak cepat When I am King yang notabene adalah lagu andalan mereka di album Tim Knol (2010). Semua penonton menikmati dengan riang gembira. Ada keanehan pada Tim ketika itu. Tim merasa kepanasan (mungkin karena suhu di negara tropis), kemudian Tim melepas sepatunya yang dianggap ribet, kemudian tanpa beralaskan kaki dia melakukan konser dari awal hingga akhir.
Di suatu lagu yang berjudul Sam, para penonton diajak interaksi dengan menyanyikan sambil tepuk tangan di reff lagu tersebut.
Sam

Sam's leaving on a midnight train
Holes in his shoes
Holes in his brain
Holes in his pocket where the money goes through
What an excuse to leave a one way ticket too

reff:
Sam's leaving town, Sam's leaving town
Sam's leaving town, Sam's leaving town
He lost control

He tried to live his own rock and roll
But after many years he lost his self control
Every band rehearsed a tune out into a big fight
Now be smart Sam, turn on your light

 berikut lagu dan Video clip nya:

Lagu yang sangat keren dinyanyikan bersama-sama. Waktu menonton konser ini sangat tidak terasa. Meluangkan waktu menonton konser ini benar-benar melepaskan sedikit penat, mengingat jarang sekali musisi mancanegara yang mengunjungi Magelang.

Tim Knol and Band pada awalnya mengagendakan 8 - 10 lagu saja (dari album 2010) di sebuah tour di Indonesia. Namun antusiasme penonton di Magelang yang begitu support dengan musik Britpop sekelas Tim Knol, maka mereka menambah lagu dengan senang hati. Terdengar teriakan dari penonton "One More !!! One More !!!" maka Tim Knol and Band menambah agenda tak terduga lagu mereka. Bahkan mereka menambahkan 5 perform lagu kepada penonton. Ya, sangat berkesan ketika itu, dan saya selalu teringat di kala itu. Kemudian lagu ditutup dengan lagu Koes Plus - Kembali. Penonton pun antusias untuk bernyanyi bersama.

Tepuk tangan yang sangat meriah mengakhiri acara. Dan penonton diberi kesempatan untuk foto bareng Tim Knol and Band. 

Pengalaman Tak Terlupakan ...
Ada suatu perasaan pengalaman yang tak terlupakan melalui konser Tim Knol ketika masih ada ikatan emosional antara Belanda - Indonesia (Magelang). Ikatan emosional ini bukan lantaran penjajahan kolonial, namun ikatan emosional bahwa ada dukungan di bidang kebudayaan. Ada pertukaran budaya, dimana kita dalam berbangsa memiliki sikap dan sifat bilateral yang bersaudara tanpa memandang RAS. Dan semoga kita selalu memiliki hubungan yang baik dalam bernegara, tidak hanya dalam satu negara, namun kepada semua negara.

FAKTA KONSER MUSIK TIM KNOL di MAGELANG:
- Tiket berupa undangan gratis yang bisa diambil di Stasiun Radio Polaris FM

- Lagu yang berjudul Sam: Tim membuat lagu untuk teman-temannya yang sudah kecanduan alkohol. Dia ingin menasehatinya tapi sayangnya temannya tidak mendengarkan itu. Setiap videoclip Tim Knoll biasanya perpaduan gambar seni modern.

- Hanya Tim Knol yang tidak beralas kaki (entah sepatunya hilang, atau kepanasan)

- Sang pemain Keyboard yang bernama Matthijs van Duijvenbode selama tour konser di Indonesia hanya mau dipanggil dengan nama Merpati.

- Setelah kata sambutan, rombongan dari pemkot termasuk pak Walikota meninggalkan acara setelah lagu pertama.

- Tim Knol dan crew mengatakan bahwa: Magelang memiliki penonton yang paling meriah selama tour Tim Knol and Band di Indonesia.
Merpati dan Saya

Magelang stad wacht op u allen

Wednesday, 8 January 2014

MINGGU PAHING DI MAGELANG


Minggu pagi suasana masih mengembun di Magelang. Ketika embun belum menguap oleh mentari, sudah banyak orang berdatangan ke pusat kota Magelang. Orang-orang berdatangan tidak hanya dari Magelang saja, namun dari berbagai kota. Mereka berbondong-bondong ke pusat kota tidak berarti tak mempunyai alasan. Magelang sudah dikenal lama oleh warga Kedu, ketika hari Minggu Pahing (Pahing = hari Jawa) pasti mengadakan acara pengajian di Masjid Agung Magelang.

Tak sedikit pula orang Magelang "modern" yang mengetahui acara rutin Minggu Pahing di Masjid Agung. Terkadang orang Magelang kota acuh dengan acara ini karena dihadapkan dengan rutinitas sehari-hari yang lebih menarik, sehingga mereka melupakan bahkan tidak tahu tentang kearifan bersifat kelokalan seperti kegiatan Minggu Pahing di Masjid Agung Alun-alun Magelang. Semua ini tidak sepenuhnya kesalahan mereka, ketidaktahuan ini karena hanya kurang informasi saja mengenai hal tersebut. Ya, di media populer saja jarang yang menuliskan agenda ini. Namun saya pribadi sangat optimis, kalau kearifan lokal Minggu Pahing ini tidak akan punah dan tetap menjadi tradisi luhur. :)

Sedikit menyinggung tentang Minggu Pahing di Magelang, masyarakat pasti sudah paham tentang keistimewaannya. Minggu Pahing dianggap istimewa, karena pasti akan ada pengajian akbar. Banyak orang dari kota, kabupaten, bahkan (tidak mengurangi rasa hormat) jauh-jauh dari gunung pun menyempatkan diri untuk menghadiri pengajian di Masjid Agung Magelang. Magelang - Kedu memang sangat terkenal akan masyarakat yang religius dan toleransinya. Ini sangat terbukti, karena kawasan alun-alun Magelang di hari Minggu umat Nasrani dan umat Muslim saling berpapasan untuk beribadah di tempat ibadah yang saling berdekatan (Masjid Agung Magelang, Gereja St. Ignatius, GPIB dan Klenteng Liong Hok Bio) dan tidak ada masalah.


Ini serunya kalau Minggu Pahing di Magelang tiba. Karena banyaknya orang berdatangan dari wilayah "lingkar" Magelang, maka banyak orang yang berinisiatif berjualan di alun-alun bagian barat dan selatan. Ya, berjualan secara mendadak dan hanya pada satu waktu saja. Para pedagang ini biasa menyebut dengan pasar tiban. Pasar Tiban Minggu Pahing merupakan satu kesatuan yang tidak akan terpisahkan dari pengajian Minggu Pahing di Masjid Agung Magelang. Memang pasar tiban ini tidak seramai pasar konvensional yang biasanya. Namun sangat unik karena barang yang dijual sangat unik, seperti peralatan untuk beribadah, pakaian, makanan jadul, tasbih, ali-ali (cincin), gelang, tembakau dan sebagainya. Ini tidak akan terlihat di hari biasa, kecuali hari Minggu Pahing. Para pedagang ternyata tidak semata mementingkan sisi ekonomi saja, namun memiliki sisi "religius" ngalap berkah. Ngalap Berkah ini menandakan bersyukur kepada Tuhan atas berkah yang di dapatkan (jasmani-rohani). Sisi kearifan lokal sangat kental dengan adanya interaksi antar manusia, ditandai dengan tidak membedakan unsur SARA melihat kompleksnya budaya-religiusitas sekitar alun-alun kota Magelang.  Ya, inilah uniknya budaya lokal Minggu Pahing di Magelang.
Berjualan Tembakau dari Temanggung
Berjualan makanan: gorengan, arem-arem,
keripik melinjo, pisang rebus, dll.

MINGGU PAHING DI MAGELANG

Penanggalan Jawa sekarang kurang diminati oleh masyarakat "modern" kebanyakan (termasuk saya) hehe.... Ini dikarenakan orang menganggap bahwa sistem penanggalan Jawa tidak praktis dan banyak sekali maknanya. Ada juga orang yang takut mengetahui sistem penanggalan tersebut karena ada unsur hari baik dan hari buruk. Memang banyak yang menganggap unsur mistis masih melekat dengan sistem penanggalan tersebut. Dengan berbagai latar belakang itu, orang menganggap bahwa semua hari adalah sama baiknya. Itu juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena sebenarnya salah pengetian saja dengan sistem penanggalan Jawa. 

Menurut Primbon, setiap penanggalan tersebut memiliki makna dan tujuan. Primbon merupakan sistem perhitungan atau ramalan berkaitan dengan aktivitas orang Jawa. Menurut kepercayaan Jawa, arti dari suatu peristiwa dapat ditentukan dengan menelaah saat terjadinya peristiwa tersebut menurut berbagai macam perputaran kalender tradisional. Salah satu penggunaan yang umum dari metode ini dapat ditemukan dalam sistem hari kelahiran Jawa yang disebut wetonan.

Weton merupakan gabungan dari tujuh hari dalam seminggu (Senin, Selasa, dst) dengan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Perputaran ini berulang setiap 35 (7 x 5) hari, sehingga menurut perhitungan Jawa hari kelahiran kita berulang setiap lima minggu dimulai dari hari kelahiran kita.

Makna Minggu Pahing
Ternyata, tidak ada salahnya juga mengerti soal penanggalan jawa. Menurut berbagai sumber yang saya baca, makna dari Minggu Pahing di primbon Jawa adalah: 
  • Menurut pengertian tradisional, orang yang lahir pada hari Minggu Pahing diakui memiliki kemampuan yang mengagumkan di bidang apa saja yang digelutinya. Mereka adalah pribadi-pribadi kuat yang mampu mempertahankan pendapatnya dalam keadaan sulit sekalipun. Tetapi mereka juga berpikiran luas dan cenderung ditanggapi dengan baik dalam lingkungan sosial.
  • Anehnya, kelompok ini dapat benar-benar ahli dalam menyembunyikan (atau memendam) perasaan-perasaan yang tidak enak seperti kemarahan, kesedihan, atau penyesalan.
  • Kontrol diri semacam itu sangat menguntungkan bagi seorang politikus, doktor UGD, atau agen rahasia. Namun, semoga sifat ini tidak berakibat pula pada terpendamnya perasaan-perasaan yang semestinya ditunjukkan secara terbuka kepada orang-orang yang mereka cintai.
Masjid Agung - Minggu Pahing di Magelang

Masjid Agung Magelang 1920
Source: KITLV (klik)
Kegiatan keagamaan di Masjid Agung Magelang ini tak terlepas dari sejarah, yaitu berawal dari penentuan arah kiblat masjid. Kiblat Masjid Agung Magelang ini merupakan salah satu dari 3 masjid di Jawa Tengah yang mempunyai kiblat lurus dengan Mekah, dua masjid lainnya adalah masjid di Grobogan dan Masjid Agung Jawa Tengah. Walau sudah berulang kali mengalami pemugaran kiblat masjid ini tidak pernah dirubah sejak pertama didirikan oleh KH Mudakir.
 
Pada saat didirikan oleh bupati pertama RA Danoeningrat I, kepengurusan dilakukan oleh bidang kepenghuluan. Setelah Departemen Agama (Depag) berdiri sekitar tahun 1945, masjid ini dikelola oleh Depag. Baru pada tahun 1960 terbentuk kepengurusan takmir masjid.
Setelah terbentuk kepengurusan takmir masjid, kegiatan keagamaan kian tertata dan maju. Salah satu tradisi yang masih terjaga hingga sekarang adalah Pahingan yang dilakukan selapan (35 hari) pada hari Minggu pahing. Kegiatan ini dilakukan mulai tahun 1967, jamaah yang datang pun bukan hanya dari Kota Magelang namun juga dari luar kota dan kabupaten. (Bhekti Wira Utama).

RELEVANSI

Kita patut berbangga memiliki sistem tata kota dengan tingkat budaya sosial yang stabil di Magelang. Melihat tata kota alun-alun kota yang memiliki "lingkaran emas" tempat ibadah (Masjid Agung Magelang, Klenteng Liong Hok Bio, Gereja St. Ignatius dan GPIB) yang digunakan masing-masing di hari yang sama, namun saling menunjukkan sikap toleransi. Ini sangat terbukti ketika setiap acara Minggu Pahing di alun-alun Magelang terlaksana dengan rapi, tertib dan bersih.

Kegiatan masyarakat seperti ini seharusnya bisa menjadi jagar budaya yang sangat istimewa. Lihat saja segi kelokalan yang masih tetap bertahan di cepatnya perkembangan jaman. Secara nyata ditunjukkan sisi religius dan ekonomi masyarakat kecil (di luar tempat ibadah) berdampingan. Bukan melulu soal mencari materi berbentuk uang, namun mensyukuri berkah jasmani-rohani sudut pandang kearifan lokal. Hal seperti ini seharusnya lebih diperhatikan dan dilestarikan daripada pemikiran "modernisasi" memperbanyak bangunan-bangunan baru seperti ruko dan toserba yang cenderung lebih ke budaya konsumerisme.

Kemajuan jaman dan teknologi memang tidak bisa ditahan. Justru manusia harus update soal modernisasi kemajuan teknologi dan jaman. Namun ada yang kadang disayangkan apabila tradisi lokal disinyalir akan menjadi pudar secara perlahan. Kita kadang lupa, kearifan lokal itu merupakan filter ampuh dalam menghadapi era globalisasi modern. Tradisi kearifan lokal merupakan jati diri Indonesia. Apabila sebuah tradisi dihilangkan, maka mulai runtuhlah jati diri. Dan kita berakhir dengan "disetir" budaya baru (yang entah itu budaya yang baik atau buruk apabila tidak pakai filter kearifan lokal).

Ya, semoga kearifan lokal Magelang ini tidak punah oleh ulah masyarakat Magelang sendiri. Tugas kita semua menjaga dan melestarikannya. :)

SAVE HISTORY AND HERITAGE IN MAGELANG

Referensi:
KOTA TOEA MAGELANG