Sunday, 26 April 2015

SENIMAN GRESIK: AMANG GENGGONG

Tulisan kali ini akan mengulas tentang seni. Setelah tulisan tentang seni yang lalu ada di Magelang, kali ini akan tamasya ke kota tetangga, Gresik. Tetangga jauh sih, Jawa Timur... hehe...

Seni itu sangat fleksibel, ada tradisional dan modern. Esensi dari seni itu apresiasi karya dan juga penghargaan intelektual otak kanan manusia. Fungsi otak kanan lebih ke arah perkembangan (EQ). Contohnya dapat dilihat dari cara orang tersebut bersosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, melukis, dan segala jenis kegiatan kreatif lainnya. Orang yang terlihat otak kanannya cenderung lebih produktif adalah orang-orang yang bergelut di bidang seni.

Salah satu seniman Gresik yang terlupakan adalah Amang Genggong. Tak banyak orang mengenal sosok Amang Genggong. Dialah seniman yang cukup disegani, logat medok ng-Gresik, setiap malam suka keluyuran dengan sepeda onthel keliling kota Gresik. Seniman ini merupakan seniman musik, dengan alat musik yang kurang populer di Indonesia: Harmonika. Tak seperti umumnya orang memainkan alat musik harmonika, Cak Amang membunyikan harmonika tanpa memegang harmonikanya, dengan menghasilkan tiga suara sekaligus, bahkan bisa memeragakan gerakan pencak silat. Sebagai seniman maestro yang sangat unik, Amang Genggong merupakan salah satu pusaka Gresik di bidang seni musik.

Amang Genggong
Dengan nama asli Abdurrachman Chadry (74), beliau merupakan seorang guru les bahas Inggris. Pendidikan formalnya hanya sampai SMEA, itupun tidak tamat, namun semangatnya untuk menimba ilmu begitu menggebu. Karenanya pada tahun 1958 –1959 dia belajar bahasa Inggris dengan bimbingan Buth Peters, ekspatriat asal Amerika Serikat. Dengan modal kemampuan tersebut dia memberanikan diri mengajar private. Dengan menggunakan sepeda dia menghabiskan hari-hari panjangnya untuk mengunjungi rumah demi rumah siswanya di kampung seputar Gresik. Sangat rendah hati mengingat beliau seorang maestro Harmonika kelas dunia.

Prestasi sangat membanggakan di bidang seni musik harmonika dimulai saat dua kali meraih nilai teratas dalam lomba harmonika yang diselenggarakan Radio Suzana Surabaya pada tahun 1987 dan 1997. Atas kemahirannya tersebut, Abdurrachman Chadry akrab disapa dengan nama panggung Amang Genggong. Ketrampilan spesial ketika memainkan alat musik harmonika, Amang Genggong bisa membunyikan tiha suara sekaligus, yakni melodi, rithem dan bass saat menyajikan lagu andalan ketika pentas yaitu: Ampar Ampar Pisangg, Rujak Ulek, Mother Ho Are You To Day dan lain-lain.
Ketrampilan khusus tersebut tidak bisa dilakukan secara instant. Amang Genggong membutuhkan waktu belajar selama lima tahun. Untuk belajar suara satu guna menyajikan lagu-lagu membutuhkan waktu setahun. Sedangkan rithem dan bas masing-masing ditempuh dua tahun. Tidak mudah memainkan alat harmonika karena setiap harmonika memiliki karakter yang berbeda. Alasan Amang Genggong memilih harmonika daripada alat musik yang lain adalah karena mudah membawanya dan juga harganya lebih murah dibandingkan alat musik yang lain. Harmonika yang sering dia bawa untuk pentas di Gresik adalah Suzuki Manji. Dia mempunyai impian memiliki harmonika bermerek Hohner dengan tipe 24 lubang.
Ketrampilan bermain harmonica dipelajari secara otodidak sejak Januari 1954, setahun kemudian dia memimpin orkes kanak-kanak ‘Seruni’ hingga tahun 1959. Menginjak dewasa dia bergabung dengan orkes gambus peniup harmonika dan vokalis yang mendendangkan lagu Melayu, India, Arab serta Indonesia. Bersama harmonika kesayangannya dia pernah mempopulerkan nama Gresik di hadapan masyarakat musik di Jakarta dengan tampil di Warung Apresiasi dan Taman Ismail Marzuki dengan menyajikan tembang-tembang surau sebagai cermin khas budaya Gresik.
Tidak hanya domestik, seorang Amang Genggong sudah bertaraf Internasional. Dalam situs GUINNESS WORLD RECORD CHALLENGERS (klik) , Amang Genggong dinobatkan sebagai "The Most Unique Harmonica Player" (pemain harmonika paling unik dari Indonesia). Selain itu, Amang Genggong juga pernah bermain bersama seniman harmonika bertaraf internasional, maestro asal Hongkong: Mr Chow

Angkat topi buat Abdurrachman Chadry a.k.a Amang Genggong. Apresiasi tertinggi buat seniman maestro harmonika yang selalu rendah hati dengan kedaerahannya. Seniman adalah Heritage yang tak akan lekang dimakan jaman, namun terus dikenang. Tidak akan hancur seperti heritage berbentuk bangunan fisik, namun akan terus kuat karena kearifan perasaan manusia secara personal dan bersosial.

Karya Amang Genggong
Beberapa kali Amang Genggong pentas di acara formal dan non formal. Kemudian ia mengabadikan ke dalam sebuah video. Kumpulan video ini diabadikan ke dalam sebuah DVD. Apresiasi bukan sematan pada skill individu Amang Genggong, namun eksitensi seniman lokal yang mampu mengharumkan nama Indonesia dan dunia

HARMONIKA
Harmonika adalah salah satu alat musik tiup. Cara memainkan alat musik ini adalah dengan meniup dan menghisap lubang untuk menghasilkan suara. Harmonika berasal dari alat musik tradisional Cina yang bernama 'Sheng'. Alat musik tradisional tersebut telah digunakan sekitar 5000 tahun yang lalu, tepatnya sejak kekaisaran Nyu-kwa.

Harmonika modern ditemukan pada tahun 1821 oleh Christian Friedrich Buschmann di Jerman. Sebuah instrumen musik tiup sederhana yang terdiri dari plat-plat getar dari logam yang disusun secara horizontal dengan model yang sederhana dan hanya menyediakan nada tiup kromatis.

Model awal dari Buschmann akhirnya banyak ditiru dan disempurnakan menjadi lebih baik. Salah satu contohnya adalah harmonika buatan Richter yang merupakan desain awal dari sebuah harmonika modern. Pada tahun 1826 ia mengembangkan variasi harmonika dengan 10 lubang tetap dan 20 pelat getar dengan pemisahan fungsi pelat yang ditiup dan yang dihisap. Pada akhirnya, nada yang dibuat oleh Richter disebut sebagai nada diatonis dan merupakan nada standard harmonika.

Bisnis instrumen Harmonika dimulai pada tahun 1857 saat pengrajin jam Jerman bernama Matthias Hohner memutuskan untuk menjadi produsen harmonika. Dengan bantuan dari keluarganya, ia dapat memproduksi 650 harmonika tahun itu. Hohner memperkenalkan harmonika ke Amerika Utara pada 1862 sebuah langkah yang membawa pabrikan Hohner menjadi produsen nomor satu untuk harmonika. Pada 1887 Hohner telah memproduksi lebih dari 1 juta harmonika per tahunnya. Sekarang, Hohner telah memproduksi lebih dari 90 model harmonika yang berbeda jenis, nada, dan model. Yang memungkinkan untuk memainkan berbagai macam gaya musik mulai dari pop, blues, rock, country, ska dan bermacam-macam lainnya.



Aksi Amang Genggong:
1

2

3

4

5

6

7

8

Saturday, 25 April 2015

GRESIK ASYIK

Selamat pagi Gresik... Pagi yang cerah di Gresik...

Tamasya kali ini saya tidak sendirian, namun dengan kawan-kawan Temu Pusaka 2012 yang sedang diadakan di Surabaya sebagai tuan rumah. Ya, memang sudah lama, namun tak jadi soal karena tamasya tak hanya dikenang namun dirasakan kedekatan antara subyek dan obyek. Hhhmmm, Temu Pusaka kali ini dihadiri oleh puluhan komunitas yang ada di Indonesia, salah satunya dari KOTA TOEA MAGELANG dimana saya mewakilinya bersama mas Bagus Priyana.

Sekitar pukul 08.30 saya tiba di Rumah Dinas Bupati Gresik. Kami beserta rombongan disambut oleh Bupati Gresik dan tokoh Masyarakat Gresik beserta komunitas yang berkaitan dengan pelestarian Cagar Budaya Gresik. Seremonial standar khas Indonesia dilakukan: daftar ulang, upacara pembukaan, ramah tamah dengan pejabat setempat, penutupan, lalu ini yang ditunggu-tunggu... bertamasya jalan-jalan kampung Gresik... Asyik !!!

Karakter cuaca Gresik lebih cenderung panas, karena memang dataran rendah. Cuaca yang panas tak menghalangi kami melanjutkan kegiatan kali ini. Destinasi pertama kami adalah mengunjungi gedung DPRD Kabupaten Gresik. Ini kali pertama saya memasuki ruangan kerja anggota DPRD, wakil rakyat. Sungguh nyaman, menggunakan bekas bangunan khas Kolonial yang cenderung mencolok dari bangunan lainnya. Seperti biasa, banunan Kolonial memiliki karakteristik sejuk, karena bentuk yang tinggi dan besar. Terdapat beberapa ornamen yang dipajang menyesuaikan dengan karakter bangunan.
Kawasan Gresik ini tergolong kawasan cagar budaya. Kentalnya suasana sosial masyarakat dan suasana asrinya bangunan lawas membuat takjub ketika kami mengamati detailnya kawasan lingkar Gresik. Tak banyak kawasan seperti ini, dikala kawasan kolonial Belanda, Arab dan Tionghoa terdapat dalam satu kawasan yang strategis. Kesan pertama yang saya tangkap adalah begitu kuat rasa toleransi antar masyarakat. Sepanjang perjalanan begitu banyak ditemui ketika menengok kiri dan kanan selalu merasakan seperti di "dunia masa lalu".

Dengan diiringi oleh komunitas tuan rumah: "Gresik Heritage Trails", pertama kami memasuki daerah kawasan H.O.S Cokroaminoto. Di sana kami disambut meriah oleh warga sekitar. Masyarakat sekitar menjajakan hasil makanan yang sangat khas dari daerah tersebut dalam konteks "Pasar Djajan Mbiyen", dan ada pula "Pasar Cinderamata". Oh iya, daerah ini memiliki rumah yang sangat terkenal, biasanya warga sekitar menyebutya dengan rumah gajah. Rumah gajah disebutkan karena memiliki patung gajah yang besar di depan rumah. Rumah ini sangat terkenal karena mudah dijumpai. Dengan bentuk yang besar dan memiliki kamar dengan jumlah yang banyak (sepertinya lebih dari 10). Rumah turun temurun ini masih dalam kondisi yang sangat baik, tanpa ada perubahan yang signifikan. Ketika itu, rumah ini terkenal dengan rumah saudagar kaya. Gedung Gajah mungkur berletak di jalan Nyai Ageng Arem arem. Rumah ini dulunya merupakan salah satu istana dari keturunan bapak H Umar Kemasan. Posisi gajah yang sekarang sudah dipindahkan dari posisi semula.
Rumah Gajah
Source: KITLV (klik)
Selain kampung Arab, tak jauh dari situ ada pula kampung "Kemasan". Di sinilah banyak terdapat bangunan heritage Tionghoa. Mengapa daerah inidisebut kampung Kemasan, karena pada masa lalu daerah tersebut banyak pengrajin emas. Saking banyaknya, sehingga disebut "Kemasan". Mungkin di daerah lain ada nama wilayah dengan sebutan Kemasan, apabila digali sebuah cerita memiliki alasan yang sama. Pengalaman yang sangat mengesankan berkunjung ke Gresik.

Satu kata buat Gresik: Asyik ... !!!

GRESIK
Menurut catatan dari Tiongkok, Gresik didirikan di abad ke-14 oleh seorang Tionghoa. Sejak abad ke-11, Gresik menjadi pusat perdagangan dan kota bandar yang dikunjungi oleh banyak bangsa seperti, Cina, Arab, Champa, dan Gujarat. Gresik juga sebagai pintu masuk Islam pertama di Jawa, yang antara lain ditandai dengan adanya makam-makam Islam kuno dari Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun. Gresik sudah menjadi salah satu pelabuhan utama dan kota dagang yang cukup penting sejak abad ke-14, serta menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dari Maluku menuju Sumatera dan daratan Asia (termasuk India dan Persia). Hal ini berlanjut hingga era VOC.

Tahun 1411 penguasa Gresik, seorang kelahiran Guangzhou, mengirim utusan ke kaisar Tiongkok. Di abad ke-15, Gresik menjadi pelabuhan dagang internasional yang besar. Dalam Suma Oriental-nya, Tomé Pires menyebutnya sebagai "permata pulau Jawa di antara pelabuhan dagang".

Pada era VOC, Afdeeling Gresik terdiri dari Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Sedayu. Kota Gresik sendiri berada pada jalur utama jalan pos Daendels. Perkembangan Surabaya yang cukup pesat memaksa dihapuskannya Kabupaten Gresik dan bergabung dengan Kabupaten Surabaya pada tahun 1934.

Pada awal Kemerdekaan Indonesia, Gresik hanyalah sebuah kawedanan di bawah Kabupaten Surabaya. Didirikannya Pabrik Semen Gresik pada tahun 1953 merupakan titik awal industrialisasi di Gresik. Pada tahun 1974, status Kabupaten Surabaya dihapus dan sebagai penggantinya adalah Kabupaten Gresik, dengan bupati pertama H. Soeflan. Kawasan permukiman pun semakin melebar, dan bahkan pusat pemerintahan dipindahkan ke Kawasan Bunder.


Kuliner Gresik
Oh iya, ada satu hal yang menarik dari Gresik, yaitu tentang kuliner. Salah satunya adalah Nasi Krawu. Nasi krawu merupakan makanan khas dari daerah Gresik. Nasi Krawu berisi nasi putih pulen dan disajikan dengan daun pisang. Lauknya dapat berupa sayatan daging sapi, semur daging, jeroan sapi, sambal terasi dan serundeng. Sangat autentik cita rasa Indonesia yang penuh rempah.

Wednesday, 28 January 2015

PETUALANGAN JALUR KERETA API: BEDONO - CANDI UMBUL

Sepertinya sudah cukup lama event ini berlangsung, namun baru "sempat" saya ulas secara pribadi. Lebih tepatnya, mood ini baru datang.... biar lambat asal selamat.... hehe....

Magelang tidak akan pernah kehabisan cerita, baik masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Pada hari Minggu 28 September 2014 adalah kali ketiga treking bertemakan perkeretaapian Indonesia, khususnya di kawasan Magelang kembali dilaksanakan. Acara yang sudah dinanti para peserta Kota Toea Magelang (KTM) mendapat apresiasi yang istimewa. Kurang lebih 70an peserta yang mengikuti agenda Kota Toea Magelang kali ini. Ya, banyak alasan mengapa para peserta mengikuti acara ini. Antara lain: belum pernah, ingin bertemu kawan, murah meriah, dan juga jalan-jalan outdoor.

Tajuk: “DJELADJAH DJALOER SPOOR 3” menjadi acara utama, dimana acara ini diselenggarakan trekking dengan berjalan kaki sejauh 15 Km dari Stasioen Bedono sampai Stasioen Tjandi Oemboel. Deskripsi singkat:
"Perkeretaapian di wilayah Magelang memiliki sejarah yang sangat panjang. Lebih dari 100 tahun lalu “ular besi” menjelajahi bumi Kedu Utara, menghubungkan wilayah Magelang – Temanggung – Parakan dan antara Magelang – Ambarawa. Kawasan Kedu Utara merupakan dataran yang berbukit-bukit, yang elok terbentang pada wilayah antara Magelang dan Ambarawa. Udara sejuk terasa, turun dari Gunung Andong dan Telomoyo menyelimuti kawasan tersebut.

Begitu kental kisah manis di masa lalu, terlihat “si ular besi” melintasi rel berjalan lurus. Asap hitam membumbung pekat di antara persawahan, tegalan dan perkebunan kopi. Kadang berjalan tertatih ketika melewati jalan menanjak antara Jambu menuju Bedono ataupun antara Gemawang ke Bedono. Itulah sang kereta api yang dahulu menjadi raja transportasi. Lalu seperti apa jejak-jejak sejarahnya di masa kini setelah berhenti selama kira-kira 40 tahun … ???"

Wow !!! amazing sekali kegemilangan perkeretaapian Magelang - Kedu ketika itu. Coba deh sedikit membayangkan gambaran masa lalu tentang dimana suara sirine lokomotif membuncah dan memecah kesunyian kebun kopi dan persawahan. Pasti syahdu terasa, dan kebanggaan tersendiri naik kendaraan baja termegah ketika itu. Hmmm, sekarang tinggal kenangan saja bagi yang pernah merasakan.... dan kenangan itu KTM bangun kembali dalam kemasan yang berbeda.

Pukul: 07.30 WIB
Selain registrasi ulang yang diikuti 70an peserta, Pak Gub Bagus Priyana menjelaskan regulasi acara sembari memperkenalkan para peserta. Yang tak kalah pentingnya, dengan biaya registrasi para peserta dibekali amunisi (arem-arem, gorengan dan air mineral), booklet acara, dan transportasi pergi-pulang. Kami mencarter 6 angkot dalam perjalanan menuju check point pertama, stasiun Bedono.
Brifing Pak Gub
Oh iya, acara kali ini sangat spesial karena dihadiri pula oleh Komunitas MAGELANG KEMBALI. Komunitas Magelang Kembali merupakan komunitas dari Magelang yang berfokus pada penggalian semangat juang 1945 dalam melawan penjajahan kolonialisme di Magelang.

Pukul: 08.30 WIB
Kami sampai pada check point pertama, Stasiun Bedono (kabupaten Semarang). Karena tidak sabar melihat keindahan atas kejayaan stasiun tersebut, kami sedikit berpencar melihat spot terbaik. Tak diragukan lagi, stasiun Bedono ini sangat membelalakkan mata. Stasiun yang sedang direstorasi ini belum 100% selesai. Namun itu tak membuat kami berhenti untuk mengagumi kemegahan bangunan ini. Seseorang ternyata sudah menunggu kami. Dialah Pak Jumadi, sang penjaga sekaligus kepala stasiun Bedono. Sosok pria ini tak disangka asli kota Magelang. Pak Jumadi menjelaskan tentang stasiun Bedono yang dibangun sekitar tahun 1874 - 1875. Memang sedikit info tertulis yang valid tentang kisah stasiun Bedono. Bahkan pak Jumadi mengetahui info tersebut, karena ayah pak Jumadi selaku mantan penjaga dan kepala stasiun Bedono ini menceritakan kepadanya.
Pak Jumadi
Cukup mencengangkan stasiun Bedono ini. Stasiun ini tergolong stasiun penting, melihat rel double track dan terdapatnya turntable (semacam kolam lingkaran, untuk memutar lokomotif secara manual tenaga manusia) mendandakan stasiun ini merupakan stasiun yang cukup sibuk di eranya.
Double Track
Turntable

Pukul: 09.30 WIB
Kami mulai perjalanan yang "sebenarnya".... petualangan dimulai !!!
Baru beberapa meter meninggalkan stasiun, kami menjumpai buah kopi yang sedang dijemur. Ini mendandakan bahwa tidak jauh dari stasiun ada beberapa pohon dan kebun kopi. Ya, pohon kopi ini tak lepas dari sejarah kolonialisme pada masa itu, Cultuurstelsel (tanam paksa salah satunya pohon kopi). Salah satu fungsi transportasi kereta api pada masa itu sebagai sarana transportasi pengiriman bahan pangan dan hasil bumi menuju pelabuhan, yang kemudian akan dikirimkan ke Belanda.

Tak jauh dari stasiun pula ditemukan sisa-sisa rel bergerigi yang masih terlihat jelas. Memang secara fungsi, tak banyak ditemukan rel bergerigi di era jaman sekarang. Rel bergerigi berfungsi untuk trek jalur berbukit. Selain menahan lokomotif dan gerbong, namun sebagai pengunci apabila di jalan naik ataupun turun agar tidak tergelincir. Walaupun hanya bisa berjalan 10-20 Km per jam,  teknologi rel bergerigi ini besar di jaman itu, mengingat kawasan berbukit sangat banyak di jalur kereta api seputaran Magelang - Kedu.

Panas terik tidak menjadi halangan kami dalam mengarungi dan menjelajahi rel kerata api menuju stasiun Candi Umbul di hamparan kebun cokelat dan kebun kopi. Sepanjang jalanan memang tidak ada kisah yang sangat penting untuk diceritakan. Namun hal itulah yang menyebabkan kami menjadi akrab satu sama lain. Spekulasi demi spekulasi acap kali terlontar antar peserta. Sehingga kawan yang lain pun ikut berkomentar. Ya, memang komunitas ini tidak mengarahkan peserta untuk saling berinteraksi, namun melatih tiap individu untuk saling berinteraksi secara pribadi-sosial tanpa harus disuruh terlebih dahulu.

Di tengah perjalanan kami menemui sisa-sisa kejayaan pembangunan di era kolonial, yaitu bekas saluran air Viaduct talang air dari plat baja, dan salah satu tiang penyangganya dari rel kereta api. Namun sekarang, diubah menjadi jembatan penyebrangan manusia oleh masyarakat setempat. Viaduct ini berada di dusun Selo, dimana rel bergerigi  masih menjadi pedoman perjalanan kami.
Viaduct

Pukul: 10.30 WIB
Para peserta sudah berpeluh terlihat lelah. Kami memutuskan untuk istirahat di check point 2. Perjalanan tak semudah yang dibayangkan. Ada tantangan nyata dalam perjalanan ini, yaitu melewati peternakan ayam. Kandang ayam yang sangat besar, terlihat 2 bangunan kandang yang memanjang yang harus kita lewati. Bahkan kawan kita Hamid Anwar hampir "gumoh" karena bau kandang ayam yang cukup ekstrim. Ini menjadi cerita yang unik bahkan tak mungkin kami lupakan dalam event KTM.... hehe....
Di check point ke-2 kami sejenak melepas lelah dan mengisi tenaga dengan amunisi yang sudah kami bawa. Acap kali kami bercanda, di dalam istirahat inilah semacam gambaran masa lalu rombongan pengungsi yang sedang istirahat di tengah perjalanan jaman penjajahan Belanda....

20 Menit yang cukup mengisi tenaga, kami pun melanjutkan perjalanan. Banyak aset kereta api yang digunakan warga sekitar. Contoh saja, bekas jembatan yang digunakan sebagai jemuran, rel yang menjadi tiang lapangan voli, bahkan bekas rel yang disusun menjadi jembatan penyeberangan. Memang kreatif bisa menggunakan barang bekas, namun di sisi lain tidak dibenarkan pula kegiatan seperti ini.... hehe....


Pukul: 11.30 WIB
Terik matahari hampir pada puncaknya, kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk mengistirahatkan otot dan laju darah. Banyak peserta yang kehabisan amunisi logistik air mineralnya. Namun tak mengurangi semangat kami dengan saling menghibur satu dengan yang lain. Oh iya, di perjalanan menuju check point dadakan ini, ada tragedi pilu dan lucu. Kawan kita Hamid Anwar yang terkenal suka bercanda ini terperosok dalam menuruni pematang. Namun masih beruntung masih ada Pakdhe Wotok yang menolong. Kami yang melihat hanya tertawa terkekeh-kekeh, karena sebelum dia terperosok sempat menertawakan peserta yang lain. Dengan kata lain kena karma.... (sori bro) :D
adegan berbahaya... haha...
Check point dadakan ini tidak berlangsung lama. Kami melanjutkan perjalanan melewati hamparan sawah dan petani yang sedang menyiangi padi. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa patok putih bertuliskan P.T KAI, yang merupakan pembatas aset milik P.T KAI. Ini menjadi keseriusan P.T KAI dalam wacana pengaktivan kembali jalur Kedu yang sudah lama mangkrak sejak era tahun 1970an. Tidak bijaksana kalau saling menyalahkan, karena jaman lah yang menjawab adanya keadaan tersebut. S E L A

Pukul: 11.55 WIB
Kami mencapai check point ke-3 hampir tepat jam 12.00 WIB. Kami sudah cukup kelelahan, bahkan nampak beberapa peserta enggan melanjutkan perjalanan menuju stasiun Candi Umbul yang berjarak 45 menit. Check point ke-3 ini eks stasiun Grabag Merbabu. Stasiun ini tidak cukup besar, hanya stasiun perlintasan saja. Kini stasiu ini sudah dialihfungsikan sebagai sekolahan SMP Maarif Grabag. Adapun SMP ini berletak di Pagonan No. 15 Sidogede Grabag, Kabupaten Magelang.

Tawa canda menjadikan obat lelah sementara, yang berlagak menunggu kereta lewat. Tak disangka datanglah rombongan Mbak Ayu dan rombongan Om Andreas yang memberikan suntikan amunisi berupa Jenang Blendhong khas Magelang (seperti grontol jagung, namun diberi bubur jenang manis). Menjadikan spirit kami bertambah ketika amunisi tambahan datang.

Pukul: 13.15 WIB
Sesuai perkiraan setelah istirahat 30 menit, kami sampai pula pada check point terakhir Stasiun Candi Umbul yang berletak di desa Kartoharjo, Grabag kabupaten Magelang. Tak hanya di stasiun Candi Umbul, kami juga menikmati keramahan air hangat air mata Candi Umbul. Lelah kami terpuaskan dengan mencelupkan kaki ke air hangat tersebut. Disebutkan Candi Umbul, karena di kawasan tersebut ditemukan candi berupa kolam air yang menyembul air hangat dari dasar tanah.

Pukul: 15.00 WIB
Suatu pengalaman yang tak terlupakan mengikuti event jelajah kali ini. Badan terasa capek, namun terpuaskan dengan cerita sejarah, epiknya suasana alam dan harmonisnya kearifan lokal. Pada pukul 15.00 pula acara event ini berakhir. Selama perjalanan bertemakan jelajah jalur kereta api yang pernah jaya, kami memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada pahlawan masa lalu pembangun jalur kereta api yang sudah menyumbangkan darah, air mata dan nyawa, dalam bentuk doa bersama. 
Hmm, tak ada salahnya kita bersyukur atas nikmat karunia setitik surga di muka bumi, yang bernama: Magelang.


DATA DAN FAKTA

Perkeretaapian Jalur Secang - Ambarawa
Dialah Baron Sloet Van Den, seorang Gubernur Jendral Hindia Belanda yang mengabulkan permohonan NIS (Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschappij) dalam membangun jalur kereta api dengan rute Semarang - Kedungjati - Solo - Yogyakarta pada tahun 1862. Hindia Belanda membutuhkan jalur tersebut untuk kepentingan militer. Untuk kepentingan itulah alasan Magelang yang sebagai pusat militer Jawa Tengah dilewati sarana transportasi kereta api. Magelang sendiri merupakan percabangan dari rute: Kedungjati - Ambarawa - Secang - Magelang. 
  • Jalur rute Semarang - Kedungjati - Solo - Yogyakarta selesai dibangun dan beroprasi pada 10 Juni 1872.
  • Rute cabang Kedungjati - Ambarawa selesai pada tahun 1873.
  • Jalur Secang - Magelang beroprasi pada 15 Mei 1903.
  • Jalur Secang - Ambarawa beroprasi pada 1 Februari 1905.
Khusus rute Ambarawa - Secang - Magelang menggunakan lebar rel kereta api 1.067 milimeter. Ini dikarenakan kondisi medan yang berbukit-bukit, serta guna menekan biaya agar tidak terlalu tinggi. Daripada penyesuaian rel kembali yang dinilai berbiaya mahal, penghematan biaya ini dilakukan dengan membangun rel bergerigi (diletakkan di tengah rel) pada tahun 1902, dan juga membeli lokomotif uap khusus B25 dengan penahan gigi di tengahnya yang berfungsi menahan di rute menanjak dan menahan laju ketika jalur menurun tajam. Oleh Hindia Belanda melalui NIS menetapkan lebar rel tersebut sesuai dengan topografi Indonesia yang sebagian besar berbukit.
Pict Source: Klik
Rel bergerigi yang masih bisa dijumpai di Indonesia adalah di Ambarawa (Jawa Tengah) dan Sawahlunto (Sumatera Barat) yang dimanfaatkan oleh kereta api untuk sektor pariwisata.

Tokoh Penting Pembangunan Jalur Kereta Api 
repro majalah Sinpo
Dalam majalah Sinpo tahun 1901 bertajuk "Satoe aannemer kereta api Tionghoa", mencatatkan satu tokoh penting dalam sejarah perkeretaapian. Dialah Ho Tjong An, seorang pemborong berketurunan Tionghoa yang mengerjakan jalur kereta api antara Ambarawa - Secang dengan biaya besar f 390.000 (Guilders Belanda) dan membangun jalur kereta api Magelang - Secang , Secang - Parakan dengan biaya f 350.000 (Guilders Belanda), jumlah nilai yang sangat besar ketika itu. Dalam pembangunan rute tersebut melibatkan kurang lebih 3.000 orang pekerja.



CANDI UMBUL
Tidak banyak literatur yang menuliskan tentang Candi Umbul. Yang diketahui, pemandian ini baru dibuka sekitar tahun 1870an. Itu pun setelah Belanda memerintahkan untuk menggali peninggalan sejarah tersebut. Dinamakan Candi Umbul karena di kawasan tersebut ditemukan candi berupa kolam air yang menyembul air hangat dari dasar tanah.
Source: KITLV
Candi yang berletak di desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang ini merupakan peninggalan Wangsa Syailendra (kerajaan Mataram Kuno) yang diduga pembangunannya tidak jauh dari tahun dibuatnya candi Borobudur. Situs yang ditemukan berbahan baku batuan andesit dengan ornamen arca tumbuh-tumbuhan dan binatang. Kolam Candi Umbul terbagi menjadi dua bagian, kolam pertama airnya cukup hangat dan mengandung belerang, sementara kolam yang kedua airnya sedikit dingin dan lebih rendah. 
Pict Source: Klik
Konon, kolam Candi Umbul ini merupakan pemandian putri raja-raja setelah melakukan ritual di candi Borobudur. Bahkan hingga kini pun masih dipercaya dan digunakan sebagai ritual mandi oleh masyarakat yang disebut dengan padusan untuk membersihkan diri (secara spiritual) menjelang bulan Ramadhan untuk umat Muslim. Selain itu tak sedikit pula warga yang beragama Hindu melakukan ritual upacara Melasti dalam rangka menyambut hari raya Nyepi.

Diduga kompleks Candi Umbul pernah rusak akibat Letusan gunung Merapi Tahun 1906. Kabarnya ada kolam dibagian belakang kompleks percandian, yang terletak ditepian aliran kali Elo, imbasnya mengakibatkan kerusakan parah bahkan terpendam oleh material vulkanik yang mengalir melalui kali Elo. 
Pict Source: Klik
Dilewatinya situs Candi Umbul oleh jalur kereta api dan dibangunnya stasiun di seberang Candi Umbul, karena ketika era kolonial Belanda tidak sedikit orang Belanda yang berlibur ke Candi Umbul sebagai destinasi wisata pemandian air hangat.

#NB:
event ini diulas pula oleh National Geographic Online: Napak Tilas Rel Mati Stasiun Bedono hingga Candi Umbul (Klik aja)