Wednesday, 28 January 2015

PETUALANGAN JALUR KERETA API: BEDONO - CANDI UMBUL

Sepertinya sudah cukup lama event ini berlangsung, namun baru "sempat" saya ulas secara pribadi. Lebih tepatnya, mood ini baru datang.... biar lambat asal selamat.... hehe....

Magelang tidak akan pernah kehabisan cerita, baik masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Pada hari Minggu 28 September 2014 adalah kali ketiga treking bertemakan perkeretaapian Indonesia, khususnya di kawasan Magelang kembali dilaksanakan. Acara yang sudah dinanti para peserta Kota Toea Magelang (KTM) mendapat apresiasi yang istimewa. Kurang lebih 70an peserta yang mengikuti agenda Kota Toea Magelang kali ini. Ya, banyak alasan mengapa para peserta mengikuti acara ini. Antara lain: belum pernah, ingin bertemu kawan, murah meriah, dan juga jalan-jalan outdoor.

Tajuk: “DJELADJAH DJALOER SPOOR 3” menjadi acara utama, dimana acara ini diselenggarakan trekking dengan berjalan kaki sejauh 15 Km dari Stasioen Bedono sampai Stasioen Tjandi Oemboel. Deskripsi singkat:
"Perkeretaapian di wilayah Magelang memiliki sejarah yang sangat panjang. Lebih dari 100 tahun lalu “ular besi” menjelajahi bumi Kedu Utara, menghubungkan wilayah Magelang – Temanggung – Parakan dan antara Magelang – Ambarawa. Kawasan Kedu Utara merupakan dataran yang berbukit-bukit, yang elok terbentang pada wilayah antara Magelang dan Ambarawa. Udara sejuk terasa, turun dari Gunung Andong dan Telomoyo menyelimuti kawasan tersebut.

Begitu kental kisah manis di masa lalu, terlihat “si ular besi” melintasi rel berjalan lurus. Asap hitam membumbung pekat di antara persawahan, tegalan dan perkebunan kopi. Kadang berjalan tertatih ketika melewati jalan menanjak antara Jambu menuju Bedono ataupun antara Gemawang ke Bedono. Itulah sang kereta api yang dahulu menjadi raja transportasi. Lalu seperti apa jejak-jejak sejarahnya di masa kini setelah berhenti selama kira-kira 40 tahun … ???"

Wow !!! amazing sekali kegemilangan perkeretaapian Magelang - Kedu ketika itu. Coba deh sedikit membayangkan gambaran masa lalu tentang dimana suara sirine lokomotif membuncah dan memecah kesunyian kebun kopi dan persawahan. Pasti syahdu terasa, dan kebanggaan tersendiri naik kendaraan baja termegah ketika itu. Hmmm, sekarang tinggal kenangan saja bagi yang pernah merasakan.... dan kenangan itu KTM bangun kembali dalam kemasan yang berbeda.

Pukul: 07.30 WIB
Selain registrasi ulang yang diikuti 70an peserta, Pak Gub Bagus Priyana menjelaskan regulasi acara sembari memperkenalkan para peserta. Yang tak kalah pentingnya, dengan biaya registrasi para peserta dibekali amunisi (arem-arem, gorengan dan air mineral), booklet acara, dan transportasi pergi-pulang. Kami mencarter 6 angkot dalam perjalanan menuju check point pertama, stasiun Bedono.
Brifing Pak Gub
Oh iya, acara kali ini sangat spesial karena dihadiri pula oleh Komunitas MAGELANG KEMBALI. Komunitas Magelang Kembali merupakan komunitas dari Magelang yang berfokus pada penggalian semangat juang 1945 dalam melawan penjajahan kolonialisme di Magelang.

Pukul: 08.30 WIB
Kami sampai pada check point pertama, Stasiun Bedono (kabupaten Semarang). Karena tidak sabar melihat keindahan atas kejayaan stasiun tersebut, kami sedikit berpencar melihat spot terbaik. Tak diragukan lagi, stasiun Bedono ini sangat membelalakkan mata. Stasiun yang sedang direstorasi ini belum 100% selesai. Namun itu tak membuat kami berhenti untuk mengagumi kemegahan bangunan ini. Seseorang ternyata sudah menunggu kami. Dialah Pak Jumadi, sang penjaga sekaligus kepala stasiun Bedono. Sosok pria ini tak disangka asli kota Magelang. Pak Jumadi menjelaskan tentang stasiun Bedono yang dibangun sekitar tahun 1874 - 1875. Memang sedikit info tertulis yang valid tentang kisah stasiun Bedono. Bahkan pak Jumadi mengetahui info tersebut, karena ayah pak Jumadi selaku mantan penjaga dan kepala stasiun Bedono ini menceritakan kepadanya.
Pak Jumadi
Cukup mencengangkan stasiun Bedono ini. Stasiun ini tergolong stasiun penting, melihat rel double track dan terdapatnya turntable (semacam kolam lingkaran, untuk memutar lokomotif secara manual tenaga manusia) mendandakan stasiun ini merupakan stasiun yang cukup sibuk di eranya.
Double Track
Turntable

Pukul: 09.30 WIB
Kami mulai perjalanan yang "sebenarnya".... petualangan dimulai !!!
Baru beberapa meter meninggalkan stasiun, kami menjumpai buah kopi yang sedang dijemur. Ini mendandakan bahwa tidak jauh dari stasiun ada beberapa pohon dan kebun kopi. Ya, pohon kopi ini tak lepas dari sejarah kolonialisme pada masa itu, Cultuurstelsel (tanam paksa salah satunya pohon kopi). Salah satu fungsi transportasi kereta api pada masa itu sebagai sarana transportasi pengiriman bahan pangan dan hasil bumi menuju pelabuhan, yang kemudian akan dikirimkan ke Belanda.

Tak jauh dari stasiun pula ditemukan sisa-sisa rel bergerigi yang masih terlihat jelas. Memang secara fungsi, tak banyak ditemukan rel bergerigi di era jaman sekarang. Rel bergerigi berfungsi untuk trek jalur berbukit. Selain menahan lokomotif dan gerbong, namun sebagai pengunci apabila di jalan naik ataupun turun agar tidak tergelincir. Walaupun hanya bisa berjalan 10-20 Km per jam,  teknologi rel bergerigi ini besar di jaman itu, mengingat kawasan berbukit sangat banyak di jalur kereta api seputaran Magelang - Kedu.

Panas terik tidak menjadi halangan kami dalam mengarungi dan menjelajahi rel kerata api menuju stasiun Candi Umbul di hamparan kebun cokelat dan kebun kopi. Sepanjang jalanan memang tidak ada kisah yang sangat penting untuk diceritakan. Namun hal itulah yang menyebabkan kami menjadi akrab satu sama lain. Spekulasi demi spekulasi acap kali terlontar antar peserta. Sehingga kawan yang lain pun ikut berkomentar. Ya, memang komunitas ini tidak mengarahkan peserta untuk saling berinteraksi, namun melatih tiap individu untuk saling berinteraksi secara pribadi-sosial tanpa harus disuruh terlebih dahulu.

Di tengah perjalanan kami menemui sisa-sisa kejayaan pembangunan di era kolonial, yaitu bekas saluran air Viaduct talang air dari plat baja, dan salah satu tiang penyangganya dari rel kereta api. Namun sekarang, diubah menjadi jembatan penyebrangan manusia oleh masyarakat setempat. Viaduct ini berada di dusun Selo, dimana rel bergerigi  masih menjadi pedoman perjalanan kami.
Viaduct

Pukul: 10.30 WIB
Para peserta sudah berpeluh terlihat lelah. Kami memutuskan untuk istirahat di check point 2. Perjalanan tak semudah yang dibayangkan. Ada tantangan nyata dalam perjalanan ini, yaitu melewati peternakan ayam. Kandang ayam yang sangat besar, terlihat 2 bangunan kandang yang memanjang yang harus kita lewati. Bahkan kawan kita Hamid Anwar hampir "gumoh" karena bau kandang ayam yang cukup ekstrim. Ini menjadi cerita yang unik bahkan tak mungkin kami lupakan dalam event KTM.... hehe....
Di check point ke-2 kami sejenak melepas lelah dan mengisi tenaga dengan amunisi yang sudah kami bawa. Acap kali kami bercanda, di dalam istirahat inilah semacam gambaran masa lalu rombongan pengungsi yang sedang istirahat di tengah perjalanan jaman penjajahan Belanda....

20 Menit yang cukup mengisi tenaga, kami pun melanjutkan perjalanan. Banyak aset kereta api yang digunakan warga sekitar. Contoh saja, bekas jembatan yang digunakan sebagai jemuran, rel yang menjadi tiang lapangan voli, bahkan bekas rel yang disusun menjadi jembatan penyeberangan. Memang kreatif bisa menggunakan barang bekas, namun di sisi lain tidak dibenarkan pula kegiatan seperti ini.... hehe....


Pukul: 11.30 WIB
Terik matahari hampir pada puncaknya, kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk mengistirahatkan otot dan laju darah. Banyak peserta yang kehabisan amunisi logistik air mineralnya. Namun tak mengurangi semangat kami dengan saling menghibur satu dengan yang lain. Oh iya, di perjalanan menuju check point dadakan ini, ada tragedi pilu dan lucu. Kawan kita Hamid Anwar yang terkenal suka bercanda ini terperosok dalam menuruni pematang. Namun masih beruntung masih ada Pakdhe Wotok yang menolong. Kami yang melihat hanya tertawa terkekeh-kekeh, karena sebelum dia terperosok sempat menertawakan peserta yang lain. Dengan kata lain kena karma.... (sori bro) :D
adegan berbahaya... haha...
Check point dadakan ini tidak berlangsung lama. Kami melanjutkan perjalanan melewati hamparan sawah dan petani yang sedang menyiangi padi. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa patok putih bertuliskan P.T KAI, yang merupakan pembatas aset milik P.T KAI. Ini menjadi keseriusan P.T KAI dalam wacana pengaktivan kembali jalur Kedu yang sudah lama mangkrak sejak era tahun 1970an. Tidak bijaksana kalau saling menyalahkan, karena jaman lah yang menjawab adanya keadaan tersebut. S E L A

Pukul: 11.55 WIB
Kami mencapai check point ke-3 hampir tepat jam 12.00 WIB. Kami sudah cukup kelelahan, bahkan nampak beberapa peserta enggan melanjutkan perjalanan menuju stasiun Candi Umbul yang berjarak 45 menit. Check point ke-3 ini eks stasiun Grabag Merbabu. Stasiun ini tidak cukup besar, hanya stasiun perlintasan saja. Kini stasiu ini sudah dialihfungsikan sebagai sekolahan SMP Maarif Grabag. Adapun SMP ini berletak di Pagonan No. 15 Sidogede Grabag, Kabupaten Magelang.

Tawa canda menjadikan obat lelah sementara, yang berlagak menunggu kereta lewat. Tak disangka datanglah rombongan Mbak Ayu dan rombongan Om Andreas yang memberikan suntikan amunisi berupa Jenang Blendhong khas Magelang (seperti grontol jagung, namun diberi bubur jenang manis). Menjadikan spirit kami bertambah ketika amunisi tambahan datang.

Pukul: 13.15 WIB
Sesuai perkiraan setelah istirahat 30 menit, kami sampai pula pada check point terakhir Stasiun Candi Umbul yang berletak di desa Kartoharjo, Grabag kabupaten Magelang. Tak hanya di stasiun Candi Umbul, kami juga menikmati keramahan air hangat air mata Candi Umbul. Lelah kami terpuaskan dengan mencelupkan kaki ke air hangat tersebut. Disebutkan Candi Umbul, karena di kawasan tersebut ditemukan candi berupa kolam air yang menyembul air hangat dari dasar tanah.

Pukul: 15.00 WIB
Suatu pengalaman yang tak terlupakan mengikuti event jelajah kali ini. Badan terasa capek, namun terpuaskan dengan cerita sejarah, epiknya suasana alam dan harmonisnya kearifan lokal. Pada pukul 15.00 pula acara event ini berakhir. Selama perjalanan bertemakan jelajah jalur kereta api yang pernah jaya, kami memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada pahlawan masa lalu pembangun jalur kereta api yang sudah menyumbangkan darah, air mata dan nyawa, dalam bentuk doa bersama. 
Hmm, tak ada salahnya kita bersyukur atas nikmat karunia setitik surga di muka bumi, yang bernama: Magelang.


DATA DAN FAKTA

Perkeretaapian Jalur Secang - Ambarawa
Dialah Baron Sloet Van Den, seorang Gubernur Jendral Hindia Belanda yang mengabulkan permohonan NIS (Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschappij) dalam membangun jalur kereta api dengan rute Semarang - Kedungjati - Solo - Yogyakarta pada tahun 1862. Hindia Belanda membutuhkan jalur tersebut untuk kepentingan militer. Untuk kepentingan itulah alasan Magelang yang sebagai pusat militer Jawa Tengah dilewati sarana transportasi kereta api. Magelang sendiri merupakan percabangan dari rute: Kedungjati - Ambarawa - Secang - Magelang. 
  • Jalur rute Semarang - Kedungjati - Solo - Yogyakarta selesai dibangun dan beroprasi pada 10 Juni 1872.
  • Rute cabang Kedungjati - Ambarawa selesai pada tahun 1873.
  • Jalur Secang - Magelang beroprasi pada 15 Mei 1903.
  • Jalur Secang - Ambarawa beroprasi pada 1 Februari 1905.
Khusus rute Ambarawa - Secang - Magelang menggunakan lebar rel kereta api 1.067 milimeter. Ini dikarenakan kondisi medan yang berbukit-bukit, serta guna menekan biaya agar tidak terlalu tinggi. Daripada penyesuaian rel kembali yang dinilai berbiaya mahal, penghematan biaya ini dilakukan dengan membangun rel bergerigi (diletakkan di tengah rel) pada tahun 1902, dan juga membeli lokomotif uap khusus B25 dengan penahan gigi di tengahnya yang berfungsi menahan di rute menanjak dan menahan laju ketika jalur menurun tajam. Oleh Hindia Belanda melalui NIS menetapkan lebar rel tersebut sesuai dengan topografi Indonesia yang sebagian besar berbukit.
Pict Source: Klik
Rel bergerigi yang masih bisa dijumpai di Indonesia adalah di Ambarawa (Jawa Tengah) dan Sawahlunto (Sumatera Barat) yang dimanfaatkan oleh kereta api untuk sektor pariwisata.

Tokoh Penting Pembangunan Jalur Kereta Api 
repro majalah Sinpo
Dalam majalah Sinpo tahun 1901 bertajuk "Satoe aannemer kereta api Tionghoa", mencatatkan satu tokoh penting dalam sejarah perkeretaapian. Dialah Ho Tjong An, seorang pemborong berketurunan Tionghoa yang mengerjakan jalur kereta api antara Ambarawa - Secang dengan biaya besar f 390.000 (Guilders Belanda) dan membangun jalur kereta api Magelang - Secang , Secang - Parakan dengan biaya f 350.000 (Guilders Belanda), jumlah nilai yang sangat besar ketika itu. Dalam pembangunan rute tersebut melibatkan kurang lebih 3.000 orang pekerja.



CANDI UMBUL
Tidak banyak literatur yang menuliskan tentang Candi Umbul. Yang diketahui, pemandian ini baru dibuka sekitar tahun 1870an. Itu pun setelah Belanda memerintahkan untuk menggali peninggalan sejarah tersebut. Dinamakan Candi Umbul karena di kawasan tersebut ditemukan candi berupa kolam air yang menyembul air hangat dari dasar tanah.
Source: KITLV
Candi yang berletak di desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang ini merupakan peninggalan Wangsa Syailendra (kerajaan Mataram Kuno) yang diduga pembangunannya tidak jauh dari tahun dibuatnya candi Borobudur. Situs yang ditemukan berbahan baku batuan andesit dengan ornamen arca tumbuh-tumbuhan dan binatang. Kolam Candi Umbul terbagi menjadi dua bagian, kolam pertama airnya cukup hangat dan mengandung belerang, sementara kolam yang kedua airnya sedikit dingin dan lebih rendah. 
Pict Source: Klik
Konon, kolam Candi Umbul ini merupakan pemandian putri raja-raja setelah melakukan ritual di candi Borobudur. Bahkan hingga kini pun masih dipercaya dan digunakan sebagai ritual mandi oleh masyarakat yang disebut dengan padusan untuk membersihkan diri (secara spiritual) menjelang bulan Ramadhan untuk umat Muslim. Selain itu tak sedikit pula warga yang beragama Hindu melakukan ritual upacara Melasti dalam rangka menyambut hari raya Nyepi.

Diduga kompleks Candi Umbul pernah rusak akibat Letusan gunung Merapi Tahun 1906. Kabarnya ada kolam dibagian belakang kompleks percandian, yang terletak ditepian aliran kali Elo, imbasnya mengakibatkan kerusakan parah bahkan terpendam oleh material vulkanik yang mengalir melalui kali Elo. 
Pict Source: Klik
Dilewatinya situs Candi Umbul oleh jalur kereta api dan dibangunnya stasiun di seberang Candi Umbul, karena ketika era kolonial Belanda tidak sedikit orang Belanda yang berlibur ke Candi Umbul sebagai destinasi wisata pemandian air hangat.

#NB:
event ini diulas pula oleh National Geographic Online: Napak Tilas Rel Mati Stasiun Bedono hingga Candi Umbul (Klik aja)

Monday, 13 October 2014

EKSOTISME SOSIAL BUDAYA BOROBUDUR


apa yang biasa kita kenal jika mendengar kata Borobudur??? Pasti candinya... hehe... Borobudur yang terletak di kabupaten Magelang ini memang memiliki eksotisme dari berbagai aspek. Diantaranya bangunan Candi, sosial masyarakat, kultur dan pariwisata. Kawasan Borobudur memang sudah dikenal sejak abad ke 9 masehi. Cukup lama juga untuk sebuah kawasan, sebelum material gunung Merapi meluluh lantakkan kawasan Borobudur ini.
"Pesona Borobudur tidak hanya berupa Candi Borobudur dan Candi Pawon saja. Suasana desa, sawah, perbukitan, sungai, alamnya berpadu dengan kehidupan manusianya membentuk pesona alam yang luar biasa. Perbukitan Menoreh dan Sungai Progo menjadi batas alam wilayah ini. Di mana pesona alam itu bagaikan mutiara yang harus terus di asah agar berkilau."

"Sungguh mengasyikkan jika pesona alam itu dapat di nikmati dengan bersepeda. Ya setiap kayuhan roda sepeda yang menelusuri setiap tapak jalan desa dan persawahan akan membuat kita dapat menikmati karunia Tuhan yang sungguh luar biasa itu. Apalagi mengenal lebih dekat dengan aktivitas warga yang ada di setiap kampung yang akan di kunjungi."


Sebelumnya maaf karena postingan ini terlambat dari deadline... hehe...
Namun tak apa, karena kisah eksotisme Borobudur tidak akan pernah luntur, asalkan tidak didominasi keserakahan sumber daya manusia. Okey, kegiatan ini berlatar belakang agenda KOTA TOEA MAGELANG (KTM) yaitu komunitas yang bergerak menyuarakan dan melestarikan budaya heritage secara nyata di kawasan Magelang (kota dan kabupaten). 

Kegiatan kali ini dilaksanakan pada 24 Agustus 2014. Tidak seperti biasanya yang trekking jalan kaki, kami kali ini menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Rencana rute yang akan ditempuh adalah: Dusun Tingal - Kujon - Maitan - Nglipoh - Tuk Songo - Ngaran - Tingal, dengan panjang rute sejauh kurang lebih 8 KM. Fokus kegiatan ini tidak hanya pada bagunan candi yang sangat elok, namun ada sisi yang luar biasa, yaitu sisi kultur sosial budaya dan pesona alam buah karya Yang Maha Esa. Dengan kontribusi Rp 25.000,- kita mendapatkan pesona yang sebenarnya tak ternilai harganya. Satu kata: Amazing !!! ... hehe...
Seperti yang sudah diagendakan sebelumnya, kami mulai berkumpul pukul 07.00 WIB di rental sepeda milik pak Heru yang berletak di sebelah rumah makan Pondok Tingal, Desa Wanurejo, Borobudur (300 meter sebelah barat Jembatan Kali Progo Borobudur). Seperti biasa, sebelum agenda dilaksanakan, KTM melakukan daftar ulang beserta pembagian "amunisi" berupa 2 pisang rebus dan air mineral. Cukup sederhana namun berkesan di event ini. Tak lupa berdoa kepada Yang Maha Esa untuk kelancaran acara. Para peserta sangat antusias, bahkan mencapai 70an peserta. Sangat menakjubkan, ketika kuota yang cukup banyak di komunitas yang tergolong kecil ini.

Sesuai yang diagendakan, pukul 08.30 kami mulai melakukan perjalanan mengelilingi desa kawasan Borobudur. Kami mengelilingi desa Borobudur mengunakan sepeda sewaan dengan sangat riang. Acap kali kami terengah-engah ketika mendapati tanjakan, karena beberapa dari kami jarang yang melakukan olahraga. Namun tak jadi soal, tak ada penyesalan mengikuti acara ini. Kemudian terbayarkan sudah pemandangan alam yang epic dan istimewa luar biasa. Suatu pemandangan alam khas pedesaan, dengan lukisan alami hamparan persawahan dan perbukitan. Sungguh keindahan tak ternilai harganya ketika hanya sebesar Rp 25.000,- kami registrasi.

SOSIAL MASYARAKAT
Secara etimologis, makna dari Sosial Masyarakat adalah sekelompok orang yang saling berinteraksi dalam suatu kelompok yang menggambarkan atau menciptakan norma-norma yang berkembang di masyarakat. Kawasan Borobudur tidak lepas dari sosial masyarakat yang sangat kental sejak abad ke 9 masehi, sesuai berkembangnya candi Borobudur. Kondisi sosial masyarakat ini kurang lebih tidak jauh berbeda dengan orisinalitas sosial masyarakat ketika masa lampau. Yang membedakan adalah kondisi jaman (fisik - non fisik) dan teknologi.
Pict by: Ake Ru
Kearifan lokal merupakan kunci utama untuk menyaring derasnya perkembangan jaman dan teknologi tersebut. Tanpa adanya kearifan lokal, sisi "keserakahan" manusialah yang akan mendominasi. Dan bisa ditampilkan secara nyata, bahwa kearifan lokal masyarakat Borobudur masih kuat. Di beberapa desa wilayah Borobudur masih banyak masyarakat yang mempertahankan tradisi maupun keunggulan produk lokal, antara lain tikar dari pandan dan industri gerabah. Patut diketahui bahwa peninggalan gerabah abad 9 banyak ditemukan arkeolog di kawasan candi Borobudur. Ini mengindikasikan bahwa masyarakat sekeliling Borobudur juga memiliki kemampuan untuk membuat gerabah sejak jaman dulu.

Tidak berhenti di situ, kearifan lokal secara nyata ditunjukkan secara nyata oleh salahsatu masyarakat lokal Dusun Maitan, Borobudur. Wanita itu sedang duduk bekerja, tak kenal hari libur, dan selalu tersenyum kepada siapapun walau tidak dikenal. Dialah mbah (nenek) Kodri, seorang renta penganyam tikar dari daun pandan yang kulitnya keriput merekam 98 tahun jejak hidupnya (per 24 Agustus 2014). Namun jangan salah, mbah Kodri ini masih cekatan membuat produknya. Sebuah tikar bisa dibuatnya dalam 2 minggu, jari-jemarinya masih lincah tekun menganyam siang sampai sore. Kami disuguhkan pelajaran yang sangat berharga dan lagi-lagi tak ternilai harganya, dimana tikar tersebut dianyam 2 minggu hanya dihargai Rp 20.000,- namun mbah Kodri masih merasa dicukupkan. Kehidupan yang luar biasa karena secara matematis tidak masuk akal bagi kami para peserta event. Inilah kearifan lokal yang sesungguhnya diterapkan mbah Kodri. Mbah Kodri mengajarkan kepada kami untuk selalu ikhlas dan selalu bersyukur atas yang kita miliki (segala aspek kehidupan). Tak hanya itu saja, sebelum kami meninggalkan lokasi pertama, bahkan kami didoakan lancar rejeki oleh mbah Kodri. Sangat elok pelajaran yang kami dapat, selama ini kearifan lokal tidak ada dalam pelajaran formal (bahkan kurikulum pendidikan 2013 muatan lokal dihapus). Semoga mbah Kodri guru "kehidupan" nyata ini diberi panjang umur oleh Yang Maha Esa... :)
Pict by: Ake Ru
Dari rumah mbah Kodri, pukul 09.21 kami bertolak menuju kawasan kedua yaitu sentra pembuatan gerabah. Hamparan pemandangan alam begitu kental, dan sesekali penduduk menanyakan darimana kami berasal. Ya, sama-sama dari Magelang dan saling belajar makna kearifan lokal.... hehe.... Oh iya, sepanjang jalan kami juga mendapati gerabah yang sedang dijemur yang kemudian akan dibakar. Semuanya menggunakan teknik manual, tanpa bantuan alat khusus. Teknik yang masih dipertahankan sejak jaman dahulu hingga sekarang. Amazing !!!
Mbah Jumirah dan Agam
Seperti halnya mbah Kodri, di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang sentra pembuatan gerabah ini kami mendapati juga mbah Jumirah yang masih bugar membuat gerabah. Bahkan sekarung tanah liat yang menjadi bahan baku gerabahnya pun diangkat sendiri dengan tangannya. Mah Jumirah sangat humoris ketika kami dekati karena tertarik sedang membuat gerabah itu. "Wah simbah wis tuwa ditekani mas-mas enom bagus", ujarnya (Wah nenek sudah tua didatangi pemuda tampan). Sontak kami juga ikut tertawa karena mbah Jumirah yang humoris ini. Wanita tua 75 tahun (per 24 Agustus 2014) ini menjelaskan kepada kami bagaimana cara membuat gerabah yang baik dan bisa matang secara merata, sangat detail dan mudah dipahami. Di dalam keluarganya, mbah Jumirah ini memiliki 4 orang anak, yang juga melestarikan pembuatan gerabah. Mbah Jumirah sebenarnya sudah diminta berhenti oleh anak-anaknya. Namun ia mengurungkan saran anak-anaknya dengan alasan masih kuat dan bingung bila tidak berbuat apa-apa di rumah. Ya, memang keikhlasan, kejujuran dan kerendahan hatilah "kekuatan" dibalik kehidupan mbah Jumirah. Nampak sepele, namun tidak mudah dilakukan oleh kita.... ya kan??? hehe.... pelajaran yang sangat berarti mengikuti event kali ini.
Pict by: Pak Narwan
Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang selain sebagai sentra pembuatan gerabah, juga dijadikan desa wisata yang sudah disepakati bersama. Acap kali turis domestik dan mancanegara mengunjungi dusun Klipoh ini. Dengan mengendarai andong, para wisatawan dapat berkunjung ke dusun Klipoh tersebut. Juga dapat pula mengadakan worksop pembuatan gerabah yang kemudian menjadi cindera mata bagi wisatawan. Desa wisata ini dilakukan tanpa mengganggu aspek keseharian warga setempat. Lagi-lagi saya menggarisbawahi bahwa kearifan lokal lah yang menjaga dari komersialisasi berlebihan dari kawasan Borobudur.
Pict by: Ake Ru
Pak Tanggulangin Jatikusumo (Tengah)
Pict by: Ake Ru
Selepas dari dusun Klipoh, pada pukul 10.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Rumah Kamera, desa Majaksingi, Borobudur. Ya, rumah tersebut berbentuk kamera konvensional. Dialah Tanggulangin Jatikusumo, si empunya bangunan Rumah Kamera. Seniman nyentrik ini membangun rumah kamera karena sebagai "pelampiasan" ketika masa mudanya yang sangat gigih demi mendapatkan sebuah kamera SLR yang mumpuni, ia harus berjuang dengan tidak mudah. Kemudian setelah berhasil, sebagai seniman lokal ia menumpahkan idenya itu dalam bentuk bangunan permanen yang populer di masyarakat dengan nama Rumah Kamera. Seniman yang rendah hati ini juga mengajarkan seni kepada masyarakat lokal. Setiap akhir ia mengajarkan seni lukis secara gratis kepada anak-anak sekitar Borobudur di Rumah Kamera tersebut. Tujuan mulia ini adalah mengasah jiwa seni tiap insan, dan diharapkan agar para seniman muda tidak hanya menjadi buruh kaum kapitalis, namun bisa "berdikari" dalam naungan dimana dia lahir dan hidup.
Rumah Kamera ini rencana juga akan dihadiri pak Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (per 24 Agustus 2014). Dan Rumah Kamera ini juga ditahbiskan oleh rekor Muri sebagai rumah dengan bentuk kamera terbesar di Indonesia, bahkan tutur pak Tanggulangin, ini rumah kamera terbesar di dunia dan menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia khususnya.

Pict by: Ake Ru
Jam menunjukkan waktu pukul 11.00 WIB. Walaupun pimpinan rombongan (Pak Gub Bagus Priyana) sempat nyasar dan berbalik arah, namun tak menjadi masalah yang serius, malahan kisah yang lucu.... hehe....  Happy ending kami melanjutkan ke garis finish, yaitu: Candi Pawon. 

Sedikit kisah candi Pawon:
Pawon berasal dari bahasa Jawa awu yang berarti 'abu', mendapat awalan pa- dan akhiran -an yang menunjukkan suatu tempat. Dalam bahasa Jawa sehari-hari kata pawon berarti 'dapur', akan tetapi de Casparis mengartikannya sebagai 'perabuan' atau tempat abu. Penduduk setempat juga menyebutkan Candi Pawon dengan nama Bajranalan. Kata ini mungkin berasal dari kata bahasa Sanskerta vajra = yang berarti 'halilintar' dan anala yang berarti 'api'. Candi Pawon dipugar tahun 1903.
Relief Kalpataru dan Kinara-Kinari
Di dalam bilik candi ini sudah tidak ditemukan lagi arca sehingga sulit untuk mengidentifikasikannya lebih jauh. Suatu hal yang menarik dari Candi Pawon ini adalah ragam hiasnya. Dinding-dinding luar candi dihias dengan relief pohon hayati (kalpataru) yang diapit pundi-pundi dan kinara-kinari (mahluk setengah manusia setengah burung/berkepala manusia berbadan burung).
Semua tiba-tiba tidak fokus ke kamera dan menoleh ke kiri,
ada petugas (disamarkan) yang keberatan
Pict by: Pak Widoyoko
Satu kisah unik di ending event ini adalah ketika di candi Pawon, rombongan tidak boleh foto bersama di depan candi oleh petugas jaga. Dan bahkan petugas jaga tidak bisa menjawab alasan mengapa tidak boleh foto bersama menggunakan banner KTM, hanya beralasan: "hanya perintah atasan". Ini menjadi kisah unik, dimana komunitas yang bergerak di bidang heritage tidak boleh kampanye melestarikan benda heritage (lewat foto) oleh petugas yang berwenang. Namun karena kami dari pihak KTM tidak merasa punya salah atas alasan yang tidak jelas, maka kami tetap mengadakan foto bersama di candi Pawon. Maaf pak penjaga candi.... hehe.... :)

Thursday, 10 July 2014

KLINIK KOPI "Menyembuhkan" Pecinta Kopi

Suasana paling sempurna ogud ketika menikmati secangkir kopi adalah di sore hari. Ya, kira-kira sekitar setengah lima sampai setengah enam lah. Ngomong-ngomong soal kopi, kopi itu sejatinya berwarna hitam, karena warna lain hanya ilusi. Kopi itu menurut ogud sejatinya hanya minuman pahit apabila sempurna terseduh oleh air panas. Selebihnya, secangkir kopi itu hanya menjadi sampul buku novel, dan hitam yang lainnya hanya Kesatria Baja.
Well, ogud bukan ahli kopi karena hanya menyukai kopi. Dan ogud mencoba belajar tentang kopi tanpa melalui proses pembelajaran formal. Nah, tak ada salahnya tulisan lanjutan kita ini mengerti sedikit hal tentang yang namanya kopi. Dewasa ini banyak sekali olahan makanan-minuman berbahan dasar kopi. Di Indonesia sendiri, popularias kopi melebihi popularitas Bill Gates (soalnya do'i enggak main sinetron sih). Fenomena kopi di industri Indonesia sangat berimbas sistemik. Kopi sachet salah satu contohnya. Salah satu sisi, kopi sachet ini memberikan dampak positif pada penjual kelas bawah. Kopi sachet di sisi lain tidak tau kandungannya, entah itu sehat atau tidak (bahan kimia).

Oh iya, ada satu tempat belajar kopi dengan cara asik di belahan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempatnya di daerah Gejayan, lebih tepatnya di Pusat Studi Lingkungan Sanata Dharma, di gedung Arrupe Huis. Tempat belajar kopi itu bernama Klinik Kopi. Secara budaya populer tempat ngopi biasanya sih Klinik Kopi ini jauh dari yang dibayangkan seperti kafe biasanya. Tidak ada Wi-Fi, musik, TV dan hingar-bingar yang lain, yang ada hanya pohon jati. Unggulan dari tempat ngopi dan belajar kopi ini adalah sisi humanis.

KLINIK KOPI
Pict: @klinikkopi
Klinik Kopi merupakan tempat ngopi dan belajar kopi yang sangat ideal. Setahun sudah Klinik Kopi menyajikan kopi Nusantara (per Juli 2014) di PSL Sanata Drarma, gedung Arrupe Huis. Oh iya, format Klinik Kopi ini sangat unik. Pertama ogud mengetahui Klinik Kopi dari Twitter @klinikkopi setahun yang lalu. Jujur saja ketika itu ogud bingung dengan format Klinik Kopi. Bisa dibayangkan, jika kita ke klinik kesehatan, kita harus melalui tahapan: daftar, nunggu dipanggil, kemudian menghadap dokter. Nah, format itu ternyata disematkan ke dalam format Klinik Kopi ini. Belum ada bayangan bagaimana cara ngopi di tempat klinik. Bersama Dwiky Nico sahabat ogud, kami memberanikan untuk mencobanya dengan cara mendaftar dulu lewat akun Twitter Klinik Kopi.

Tidak berhenti di situ, kami mendaftar dulu lewat twiter karena takut tidak mendapatkan tempat klinik yang hanya buka dari jam 18.00 - 21.00 saja. Sesampainya di sana kami mendaftar ulang dan menunggu giliran. Tiba saatnya kami dipanggil, dan bertemu dengan sang penggagas Klinik Kopi yang sekaligus menjadi penyeduh kopi. Kopi yang disajikan di Klinik Kopi adalah kopi jenis Arabica saja. Adalah seorang bernama Pepeng (nama panggung) yang menjamu kami di ruang kerjanya. Ruang kerjanya berisikan peralatan untuk menyeduh kopi dan biji kopi se-Nusantara dalam berbagai toples. Ya, sama dengan klinik kesehatan yang beda visi dan misinya.... hehe....
Pict: @klinikkopi
Sisi Humanis Klinik Kopi
Pict: @klinikkopi
Ada yang spesial nih dari sisi Klinik Kopi, yaitu sisi humanis. Ketika kali pertama ke Klinik Kopi, pasti kita akan ditanya oleh Pepeng:

Pepeng: "biasanya minum kopi apa?"
Tuan A: "kopi alat Transportasi Laut nih"

Pict: @klinikkopi
Pepeng kemudian secara santai tanpa menggurui menjelaskan sisi buruk efek dari kopi sachet. Perlu diketahui bahwa kandungan random kopi kemasan sachet pabrikan, masyarakat tidak mengetahuinya. Kemudian sisi edukasi dari Klinik Kopi juga kita dapatkan. Kita mengerti tentang kopi yang baik adalah matang di pohon petik merah. Klinik Kopi nampaknya lebih menjual edukatif daripada hanya menawarkan kopi - menyajikan , selesai begitu saja. Pepeng acapkali menambahkan istilah-istilah dalam hal seduhan kopi: Crema, Body, After Taste. Sisi lain edukatif inilah yang menyebabkan kenapa ogud ke Klinik Kopi lagi.

Pict: @klinikkopi
Klinik Kopi pernah juga mengagendakan proses roasting, tentunya janjian dulu sama Pepeng. Proses ini sangat menyenangkan. Roasting merupakan proses pemanggangan kopi hingga menjadi kopi matang. Dalam proses roating kopi pastinya akan menghasilkan beberapa jenis hasil roasting sesuai yang diinginkan. Misalnya saja: light roast, medium roast, dan dark roast. Adapula tingkat roast yang lebih spesifik seperti french roast, vienna roast, cinnamon roast, dll.

Selain itu, sisi humanis yang lain adalah setiap "pasien" diwajibkan untuk saling berkenalan. Wow, ini yang tidak ada di tempat ngopi yang lain. Dari berbagai latar belakang pendidikan, pekerjaan dan umur, tanpa memandang RAS kami diwajibkan saling mengenal. Tanpa canggung kami saling berkenalan untuk menambah teman ngopi. Sangat Amazing ketika seorang Pepeng mewajibkan untuk saling kenal. Namun sedikit disayangkan ketika ogud di sana, di sisi lain ada oknum yang memunculkan geng/group berdasarkan harinya berkumpul di tempat itu hanya sebagai eksistensi saja: #Senin #Selasa #Rebon #Kamisan #Jumat #Sabtu #Minggu. Alangkah baiknya kalau kita sesama manusia tanpa memandang perbedaan, karena visi-misi Klinik Kopi adalah menjalin kebersamaan.... ya nggak sih ??!!
Pict: @arsawibowo
Gagasan Peraturan Unik
Pict: @klinikkopi
Ada sesuatu yang unik cara menikmati kopi di Klinik Kopi. Selain tidak ada internet Wi-Fi, musik, TV dan hingar-bingar yang lain yang sudah saya paparkan di atas, ada satu peraturan unik di Klinik Kopi. Adalah tiada gula di Klinik Kopi. Ya, itu memang cara menghargai dan belajar menikmati secangkir kopi di Klinik Kopi. Berbeda dengan kafe kopi lain yang melimpah dengan gula, Klinik Kopi menyajikan kopi murni dari hasil seduhan Pepeng. Cara menyeduhnya pun berbeda dengan yang lain.

Menyeduh Kopi
Pict: @klinikkopi
Manual Brewing (Penyeduhan Manual) tanpa mesin adalah keunggulan Klinik Kopi dengan alat Presso. Diharapkan dengan manual brewing ini, sambil Pepeng membuat order kopi bisa saling interaksi dengan calon peminum. Dengan alat yang namanya Presso tersebut, setiap bulir kopi dapat terekstrak dengan maksimal. Hasil seduhan tanpa gula bisa didiskusikan bersama Pepeng atau dengan teman-teman yang lain. Pertama kali ke Klinik Kopi, ogud bisa merasakan rasa kopi yang asam selain rasa kopi yang hanya pahit dan bahkan acap kali mendapat after taste luar biasa seperti: manis, pedas, rasa kayu manis dan rasa hangat. Ya, ternyata saya belajar bayak mengenai kopi Nusantara. Ternyata setiap daerah di Indonesia memiliki jenis kopi yang berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil rasa kopi ketika diseduh. Pepeng pernah menjelaskan bahwa kondisi tanah, ketinggian tanah, kondisi cucaca dan kondisi alam bisa mempengaruhi hasil akhir ketika diseduh. Penyeduhan kopi ternyata sangat detail dan bisa terukur. Selama ini kita hanya mengenal kopi dengan cara ditubruk saja.

Hmmmm.... ini nih yang paling menarik dari Klinik Kopi. Pertama ogud ke sana, jujur ogud belum paham soal kopi, walaupun sudah ngopi sejak SMA sih (kopi lokal). Apa sih menariknya seduhan Klinik Kopi? Yang menarik adalah sebuah "proses tahapan". Proses ini bukan dari segi cara membuatnya, namun proses tahapan penikmat kopi awal. Sedikit ogud onalogikan nih, bak seorang anak kecil yang belajar naik sepeda, pasti ada proses tahapan dari roda 3, roda 4, roda 4 dilepas satu, roda dua. Nah, tudak beda dengan belajar menikmati kopi di Klinik Kopi. Kita disajikan tidak langsung sajian espresso, namun melalui proses tahapan.

- Pertama kita bakal diberi arahan bagaimana karakter dari masing-masing kopi.
- Edukasi tentang perihal kopi secara detail.
- Nah untuk pengonsumsi kopi murni "awal" bakal diberikan yang soft dulu
- Soft di sini melalui unsur krema, body, after taste
- Tahapan awal selalu melalui yang namanya Double Shoot (Pepeng pernah menamai Americano) :p

Tahapan tersebut akan berkembang sesuai intensitas kita ke Klinik Kopi. Ini bertujuan agar kita bisa merasakan perbedaan dan perkembangan indra pengecap kita. Patut berbangga hati ogud melewati tahapan demi tahapan untuk mengenali kopi se-Nusantara. Namun entah deh kalau waktu Pepeng sibuk mengurusi banyaknya antrian, kadang lupa menjelaskan proses ini kepada konsumen baru.... hehe.... 

Ada yang seru nih dalam memesan sajian di Klinik Kopi. Beberapa bagian dimana biji kopi yang dilabeli nama, misalnya: Kayumas Yunas, Kalosi Evi, dll. Sajiannya pun ternyata memiliki nama tersendiri, misalnya: Ipung = Satu setengah shoot, Marco = single shoot, Elsa = Ristretto. Nama ini diberikan karena intensitas nama orang tersebut memesan sajian yang sama secara kontinyu. Lucunya, banyak juga pengunjung yang meminta namanya sebagai nama menu di Klinik Kopi. Hmmmm malu sih ya....gengsi doooong haha.... Kalau belum lapang dada sih bakal jadi perlombaan dimana kita akan selalu ingin mencicipi sajian yang tertinggi tanpa melalui proses tahapan.
Pict: @klinikkopi
Aturan Main Baku
Pict: @klinikkopi
Yang satu ini bakal menjadi catatan penting sebelum kamu mengunjungi Klinik Kopi. Cara penyajian kopi di Klinik Kopi tidak menyediakan gula sama sekali. Ini bertujuan karena Klinik Kopi adalah tempat edukasi kopi secara intim. Eksploitasi rasa asli kopi ini justru menjadi andalan dan menjadi daya tarik calon penikmat kopi. Tak hayal banyak juga pengunjung yang meminta gula, namun tetap saja sampai sekarang tidak disediakan karena aturan ini sudah baku. Cita rasa gula akan mempengaruhi rasa kopi yang paling inti. Namun lagi-lagi tak lepas dari sorotanku, banyak penikmat kopi menjadi lupa diri dan sedikit belagu. Ada beberapa kawan ogud yang sepihak menjelekkan peminum kopi yang menggunakan gula, dan memperolok penikmat kopi dengan gula. Ada yang salah di sini. Ya mungkin saja ketika Pepeng menjelaskan kepada oknum tersebut  tidak mendengarkan ya.... haha.... wah kacau.... Menurut ogud sih itu masalah selera, namun untuk aturan main di Klinik Kopi yang tidak menyediakan gula, itu ogud sangat mendukung dan sangat respek karena visi misinya sudah jelas. Amazing !!!

KLINIK KOPI "Menyembuhkan" Pecinta Kopi
Judul tulisan ini memiliki arti penting dan poin penting bagi diri ogud pribadi setelah hampir setahun mengonsumsi kopi di Klinik Kopi. Ternyata proses tahapan yang pernah dilewati secara pribadi mengembangkan ogud. Ya, acap kali tidak sadar bahwa pengembangan teknologi memang semakin maju, tidak pernah akan mundur. Namun ajaibnya konsep Klinik Kopi bisa mempertahankan sisi humanis dan bahkan bisa melawan pesatnya teknologi informasi. Selain itu, ogud bisa saling toleransi antara penikmat kopi dengan gula dan penikmat kopi "anti" gula di luar Klinik Kopi. Ialah sisi humanis yang ogud tekankan utama selain cita rasa kopi yang begitu nikmat di Klinik Kopi. Seperti halnya after taste kopi yang baeraneka ragam, sisi humanis di Klinik Kopi pun beragam. Namun saya tetap bangga yang melalui Klinik Kopi terlanjur memasuki dunia kopi. Kebanggaan sisi humanis inilah yang sebenarnya "menyembuhkan" manusia dari negatif pesatnya dunia teknologi. Esensi utama dari Klinik Kopi ini bukan hanya kafein, namun "Mereka".

Ya, isi pikiran "Mereka":
Pict: @vie_kusuma